Zakat Sama Pentinganya dengan Shalat

Zakat dan rukun Islam lainnya – Syahadat , Shalat, Puasa, dan Haji – merupakan suatu paket yang tak terpisahkan satu sama lain. Bahkan  di dalam Al-Qur’an, zakat selalu dikaitkan dengan shalat. Dengan begitu, semua rukun Islam harus dilaksanakan secara serentak sesuai kemampuan masing-masing. Dalam Al-Qur’an terdapat kurang lebih 27 ayat yang mensejajarkan kewajiban shalat dan kewajiban zakat dalam berbagai bentuk kata (Yusuf Qardlawi dalam fiqh zakat, 1991:42).

Al-Qur’an menyatakan bahwa kesediaan berzakat dipandang sebagai indikator utama ketundukan seseorang terhadap ajaran Islam (QS.9:5 dan11), ciri utama mukmin yang akan mendapatkan kebahagiaan hidup (QS.24:4), ciri utama mukmin yang akan mendapatkan rahmat dan pertolongan Allah SWT (QS.9:73 dan QS.22:40-41). Kesediaan berzakat dipandang  pula sebagai orang yang selalu berkeinginan untuk membersihkan diri dan jiwanya  dari berbagai sifat buruk, seperti: bakhil, egois, rakus dan tamak, sekaligus berkeinginan untuk selalu membersihkan, menyucikan dan mengembangkan harta yang dimilikinya (QS.9:103 dan QS.30:39).

Sebaliknya, ajaran Islam memberikan peringatan dan ancaman yang keras terhadap orang yang enggan mengeluarkan zakat. Di akhirat kelak, harta yang disimpan dan ditumpuk tanpa dikeluarkan zakatnya, akan berubah menjadi azab bagi pemiliknya (QS.9:14-35). Sementara dalam kehidupan dunia sekarang, orang yang enggan berzakat, menurut beberapa hadits Nabi, hartanya akan hancur, dan jika keengganan itu memassal, Allah SWT akan menurunkan berbagai azab. Atas dasar itu, sahabat Abdullah bin Mas’ud menyatakan bahwa orang-orang yang beriman diperintahkan untuk menegakkan shalat dan menunaikan zakat. Siapa yang tidak berzakat, tidak ada shalat baginya.

Rasullullah SAW pernah menghukum Tsa’labah yang enggan berzakat dengan isolasi yang berkepanjangan. Tak ada seorang sahabatpun yang mau bergaul dengannya, meski hanya sekedar bertegur sapa. Khalifah Abu Bakar Siddiq bertekad akan memerangi orang-orang yang shalat tapi enggan berzakat. Ketegasan sikap ini menunjukan bahwa perbuatan meninggalkan zakat adalah suatu kedurhakaan, dan bila hal ini dibiarkan, maka akan memunculkan berbagai kedurhakaan dan kemaksiatan yang lain Kewajiban menunaikan zakat yang demikian tegas dan mutlak itu, oleh karena di dalam ajaran ini terkandung hikmah dan manfaat yang demikian besar dan mulia, baik yang berkaitan dengan muzakki, mustahik, harta yang dikeluarkan zakatnya, maupun bagi masyarakat secara keseluruhan.

——————————————————————————————-
Di Indonesia (atau malah dikebanyakan negeri muslim), Zakat sangat kalah pamor dibanding Rukun Islam lainnya. Ibadah haji misalnya, meskipun harus mengeluarkan uang sebesar Rp 26 juta atau lebih, Ummat Islam di Indonesia, akan merasa bangga menunaikan ibadah haji berkali-kali, padahal ibadah yang wajib dilakukan itu hanyalah satu kali.

—————————————————————————————————————

Kengganan ummat Islam mengeluarkan zakat, infak, dan shadaqah antara lain karena mereka tak merasakan langsung kesenangannya atau manfaatnya. Mereka hanya melihat pihak penerima (mustahik) yang merasakan langsung manfaat dari zakat, infak, dan shadaqah itu.

Bandingkan jika menunaikan ibadah haji dimana manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh orang yang bersangkutan. Karena itu tidak mengherankan, meski biaya haji itu mahal hingga puluhan juta, tapi tetap diminati ummat Islam. Sedangkan berzakat, tidak terasakan manfaatnya secara langsung oleh mereka yang mengeluarkannya. Apalagi dengan beribadah haji lantas punya ’embel-embel’ panggilan Pak Haji dan Bu Hajjah. Sedangkan zakat, tidak ada ’embel-embel’ Pak Zakat atau Bu Zakat.

Wallahu A’lam bishawab.

bagikan ke >>

WhatsApp
Facebook
Twitter