Titik Balik

Bayangkan fakta yang dialami oleh Lee pada masa kecilnya ini. Jika sarapan, ia hanya makan ampas gandum. Makan siangnya, karena tak punya uang, ia mengganjal perutnya dengan minum air. Saat makan malam, ia kembali harus memakan ampas gandum. Dan, untuk ampas itu pun, ia tak membelinya. Keluarganya mendapatkan ampas itu dari hasil penyulingan minuman keras. Ibaratnya, masa kecil Lee ia harus memakan sampah.

Namun, meski sangat miskin, Lee punya tekad kuat untuk menempuh pendidikan tinggi. Karena itu, ia belajar keras demi memperoleh beasiswa agar bisa meneruskan sekolah SMA. Kemudian, pada akhir 1959, keluarganya pindah ke ibukota, Seoul, untuk mencari penghidupan lebih baik. Namun, nasib orangtuanya tetap terpuruk, menjadi penjual sayur di jalanan. Saat itu, Lee mulai lepas dari orangtua, dan bekerja menjadi buruh bangunan.

“Mimpi saya saat itu adalah menjadi pegawai,” kisahnya dalam otobiografinya.

Lepas SMA, karena prestasinya bagus, Lee berhasil diterima di perguruan tinggi terkenal, Korea University. Untuk biayanya, ia bekerja sebagai tukang sapu jalan. Saat kuliah inilah, bisa dikatakan sebagai awal mula titik balik kehidupannya. Ia mulai berkenalan dengan politik. Lee terpilih menjadi anggota dewan mahasiswa, dan terlibat dalam aksi demo antipemerintah. Karena ulahnya ini ia kena hukuman penjara percobaan pada 1964.

Vonis hukuman ini nyaris membuatnya tak bisa diterima sebagai pegawai Hyundai Group. Sebab, pihak Hyundai kuatir, pemerintah akan marah jika Lee diterima di perusahaan itu. Namun, karena tekadnya, Lee lantas putar otak. Ia kemudian membuat surat ke kantor kepresidenan. Isi surat bernada sangat memelas, yang intinya berharap pemerintah jangan menghancurkan masa depannya. Isi surat itu menyentuh hati sekretaris presiden, sehingga ia memerintahkan Hyundai untuk menerima Lee sebagai pegawai.

Di perusahaan inilah, ia mampu menunjukkan bakatnya. Ia bahkan kemudian mendapat julukan “buldozer”, karena dianggap selalu bisa membereskan semua masalah, sesulit apapun. Salah satunya karyanya yang fenomenal adalah mempreteli habis sebuah buldozer, untuk mempelajari cara kerja mesin itu. Di kemudian hari, Hyundai memang berhasil memproduksi buldozer.

Setelah 30 tahun di Hyundai, Lee mulai masuk ke ranah politik dengan masuk jadi anggota dewan pada tahun 1992. Kemudian, 2002, ia terpilih menjadi Wali Kota Seoul. Dan 2007, Lee Myung Bak yang masa kecilnya sangat miskin itu, telah jadi orang nomor satu di Korea Selatan.

***

Dalam Al Quran dikisahkan tentang mimpi Yusuf bahwa ada sebelas bintang, bulan dan matahari yang bersujud kepadanya. Ayahnya melarang Yusuf untuk menceritakan mimpi tersebut kepada saudara-saudaranya karena tahu akan maknanya bahwa ada kemuliaan yang akan diberikan Allah kepada Yusuf. Tapi apa yang terjadi kemudian seolah-olah berkata lain. Hampir tak ada kemuliaan yang diterima Yusuf selain dari makar dan makar. Sepertinya sejarah mau berbelok. Diceburkan ke sumur, dijadikan budak sampai kemudian dibeli oleh pembesar Mesir. Sepertinya kesulitan belum berhenti biar pun Yusuf sudah hidup di lingkungan pejabat dan kekuasaan. Fitnah kembali terjadi sehingga ia harus masuk ke dalam penjara. Tetapi titik balik justru terjadi di penjara, ketika Yusuf mengetahui apa potensi yang dimilikinya. Melalui tafsir mimpi rekan sesama di penjara, Yusuf berhasil mengubah situasi. Keadaan kemudian berbalik.

Saudaraku, untuk mencapai kesuksesan ternyata kita memerlukan sebuah titik balik. Titik balik dimana kita mengetahui potensi kemudian kita optimalisasi. Bagi kita di lembaga zakat sangat banyak potensi yang bisa kita gali sehingga bisa dijadikan titik balik. Seperti jumlah muzakki yang belum tergarap, sosialisasi yang masih kurang hingga pengelolaan yang lebih profesional. Untuk itu kita butuh semangat yang tak pernah kendor dan terus menyala. Selain itu kerja kita harus tetap dalam bingkai ukhuwwah Islamiyah yang terus tumbuh dan berkembang.

Jangan merasa lemah ketika banyak hambatan yang menghadang. Dari kisah di atas kesuksesan tidak ada yang didahului oleh rasa nyaman, tetapi oleh halangan dan rintangan. Bahkan halangan dan rintangan yang ditemui seolah-olah telah menutup kesuksesan yang akan diraih. Tetapi ketika kita tidak pernah berputus asa, insyaallah kesuksesan hanya tinggal menunggu waktu. Wallahu a’lam bishawab.

bagikan ke >>

WhatsApp
Facebook
Twitter