Tingkah Mustahik Bak Muzakki

Oleh : Haryono (Manajer Divisi Madrasah Ummat DSIM)

Tulisan sederhana ini ingin mencoba menggambarkan sebagian karakter mustahik yang bersikap selayaknya sebagai seorang Muzakki. Tapi jangan salah, yang di maksud di sini bukan sifat berbaginya tapi sifat  sok kayanya, sehingga enggan atau berat tangan untuk berusaha lebih keras lagi. Saya pernah menemukan seseorang yang berprofil seperti ini. Beberapa waktu yang lalu, saya sempat bertemu dan berkenalan dengan seseorang yang sebenarnya sudah masuk dalam kategori sebagai seorang mustahik. Sebut saja namanya Bapak Logo, (hanya sebutan). Beliau biasanya menghabiskan hari-harinya sebagai penyadap karet dan menebang serta menggesek kayu. Dari menyadap karet tersebut, ia mendapat upah dalam waktu seminggu kurang lebih antara 100-150 ribu rupiah. Itupun karet bukan milik sendiri melainkan milik orang lain.

Artinya, dalam waktu sebulan penghasilan Pak Logo berkisar 400-600 ribu rupiah. Dengan penghasilan itu ia harus menghidupi istri dan dua anaknya yang masih kecil. Sedangkan penghasilan dari nebang kayu tidak bisa di pastikan berapa besar dan jumlahnya sebab biasanya tawaran datangnya tidak bisa dipastikan. Yang lebih memprihatinkan, dari sisi ibadah keluarga Pak Logo tergolong keluarga yang jauh dari penerapan nilai-nilai Islam. Untuk perlaksanaan sholat jumat saja misalnya, tidak pernah terlihat di masjid apalagi sholat lima waktu, begitu juga dengan istri dan anaknya.

Melihat kondisi ini, sebenarnya secara pribadi saya ingin menawarkan sebuah bantuan program pemberdayaan kepadanya dengan harapan bisa membantu dan menjadi penghasilan tambahan. Inipun sebenarnya, kebetulan sedang mencari mitra program Ternak Hewan Kurban. Sebelum menawarkan proram, saya mengawalinya dengan obrolan seputar ternak sapi dan kambing. Pada akhirnya sampai kepada sebuah pertanyaan saya kepadanya “Mengapa Pak Logo tidak mencoba berternak sapi atau kambing, kan tidak perlu modal, cukup bagi hasil dengan yang punya ternak?”.

————————————————————————————————————–
Pak Logo menyawab dengan ringan, “Saya tidak tahan dengan baunya, terus kalau kita berternak, repot kalau cari makanannya, nggak bisa istirahat”.
————————————————————————————————————–

Saya cuma mangut-mangut saja. Walaupun alasan yang disampaikan ada benarnya, tapi kelihatanya terlalu berlebihan. Apalagi untuk seorang Pak Logo yang sebenarnya secara fisik masih mampu untuk bekerja menambah penghasilan lagi.

Akhirnya, dari obrolan tersebut, saya mencoba mengambil kesimpulan bahwa sebenarnya Pak Logo kurang punya semangat dan dorongan untuk menambah penghasilan keluarga. Kisah sederhana ini adalah salah satu contoh yang bisa mewakili sebagian karakter seorang mustahik. Dari perjalanan pemberdayaan yang sudah berjalan selama ini, saya mencoba meninfentarisir karakter negatif yang masih sering muncul pada diri seorang mustahi. Di antaranya adalah :

  1.  Motivasi untuk berusaha rendah.
  2. Kurang bisa menjaga kepercayaan dari orang lain.
  3. Lebih menginginkan bantuan yang bersifat konsumtif di bandingkan yang produktif.
  4. Keterbatasan wawasan dan pengetahuan tentang pengaturan keuangan keluarga.
  5. Kurang menyukai dengan program pendampingan

Beberapa poin di atas merupakan faktor-faktor yang selalu menjadi tantangan program pemberdayaan. Sesuatu yang mustahil tentunya bagi seorang mustahik untuk bisa berubah menjadi muzakki apabila beberapa karakter di atas masih mendominasi prilakunya. Dan inipun tentu menjadi tantangan bagi program pemberdayaan untuk bisa mengatasinya.

Wallahualam Bishawab.

bagikan ke >>

WhatsApp
Facebook
Twitter