Program Baru untuk Mantan Penderita Penyakit Kusta

Kata orang kusta itu kejam. Kusta itu mungkin penyakit yang paling lengkap. Tidak hanya menyerang fisik, tapi juga sosial, ekonomi, dan kejiwaan. Kusta menyerang fisik karena jika terlambat berobat maka akan menyebabkan kecacatan. Bahkan jari dan tangan bisa hilang jika terlambat berobat.

 

Oleh: Haryono (Direktur Program Pemberdayaan Ekonomi)

Kusta itu menyerang sosial, karena penderita kusta itu malu akan kecacatan pada dirinya, selalu merasa minder dikarenakan ketidaknormalan yang ada pada diri mereka, dan itu wajar dialami para penderita kusta. Dan kusta itu juga menyerang ekonomi karena faktor estetis. Masyarakat masih paranoid dengan kondisi tubuh mantan pasien yang tidak lengkap sehingga enggan berhubungan dengan mereka, apalagi untuk urusan ekonomi.
Yang terakhir, kusta menyerang kejiwaan karena sekali lagi mereka malu dengan kekurangan mereka. Para penderita kusta itu pasif dalam bergaul, merasa minder sendiri dengan apa yang ada dalam dirinya, selalu pesimis, penyendiri, apalagi jika mereka dicibir dan dihina dan bahkan dijauhi.
Begitulah kiranya rintihan dan jeritan sebagian besar mantan penderita kusta. Dan itunlah yang kami rasakan ketika beberapa kali melakukan kunjungan ke Yayasan Permata Kusta Mandiri (Baca Insan Mulia Edisi XXX/Mei 2012, hal 8-9).

Penggemukan sapi

Setelah beberapa kali melakukan pertemuan dan dialog dengan mantan penderita kusta yang tergabung di Yayasan Permata Kusta Mandiri (YPKM) Sungai Kundur, Lembaga Amil Zakat Dompet Sosial Insan Mulia memutuskan untuk menggulirkan program budidaya ikan patin dan ternak hewan kurban.

Program budidaya ikan patin telah diserahkan pada Kamis (19/4), sedangkan program ternak hewan kurban diserahkan sepekan kemudian, Jumat (27/4). Adapun tujuan dari pengguliran program Ternak Hewan Kurban (THK) ini adalah dalam rangka menciptakan lapangan kerja alternatif dan baru serta meningkatkan penghasilan warga mantan penderita kusta yang tergabung disini.

Rahman, salah seorang warga setempat yang juga Ketua YPKM, terlihat begitu gembira ketika mendengar bahwa yayasannya akan mendapatkan program ini. Maka disusunlah persiapan program tersebut bersama-sama.

Ditandai dengan peninjauan ke lokasi bibit sapi yang terletak di Desa Seri Jabo Kecamatan Sungai Pinang, Kabupaten Ogan Ilir. Satu setengah jam perjalanan ditempuh demi mencapai lokasi bibit sapi yang sehat dan unggul.

Hari itu juga, setelah mendapatkan kriteria bibit yang diinginkan, langsung dilakukan negosiasi harga untuk membeli dua bibit sapi jantan yang akan digemukkan. Dipilihnya program Ternak Hewan Kurban, dikarenakan usaha penggemukan sapi sendiri merupakan jenis ternak yang mempunyai nilai jual tinggi diantara ternak-ternak lainnya.

Pada umumnya masyarakat membutuhkan hewan ini untuk dikonsumsi, karena kandungan proteinnya yang tinggi. Laju pertambahan penduduk yang terus meningkat menuntut ketersediaan akan daging yang terus meningkat pula. Oleh karena itu usaha penggemukan sapi merupakan salah satu usaha yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Dalam pemeliharaan pun relatif tidak begitu sulit karena jenis pakan yang dimakan sapi biasanya adalah rumput, jerami, bungkil pisang ataupun berbagai jenis dedaunan yang banyak tumbuh di sekitar pemukiman warga. Dengan ketersediaan padang rumput yang masih sangat luas di sekitar Sungai Kundur, peluang membuka usaha penggemukan sapi masih terbuka lebar.

Bibit sapi ini nantinya akan diserahkan pemeliharaannya kepada 56 warga mantan penderita penyakit kusta yang tergabung pada YPKM Sungai Kundur. Program THK sendiri sudah bisa dinikmati hasilnya menjelang Idul Adha, sebab permintaan hewan kurban menjelang hari raya kurban biasanya sangat tinggi. (*)

bagikan ke >>

WhatsApp
Facebook
Twitter