PBB: Tentara Myanmar Lakukan Kejahatan Seksual Secara Sistematis pada Wanita Rohingya

 

Ilustrasi patroli Tentara Myanmar di pengungsian Rohingya di Rakhine/ VOA

Ilustrasi patroli Tentara Myanmar di pengungsian Rohingya di Rakhine/ VOA

Perwakilan khusus Sekretaris Jenderal PBB mengenai kekerasan seksual dalam konflik, Pramila Patten, mengatakan bahwa banyak kekejaman yang dilakukan oleh pasukan tentara militer Myanmar terhadap perempuan Muslim Rohingya dan dapat menjadi kejahatan terhadap kemanusiaan.

Dikatakannya, tentara Myanmar telah secara sistematis menargetkan wanita Muslim Rohingya untuk melakukan pemerkosaan geng di negara bagian Rakhine.

Dia membuat pernyataan tersebut saat konferensi pers di ibukota Bangladesh, Dhaka, Ahad, setelah mengunjungi distrik tenggara Cox’s Bazar, yang terletak di dekat perbatasan dengan Myanmar.

“Saya mendengar cerita mengerikan tentang pemerkosaan dan pemerkosaan geng, dengan banyak wanita dan anak perempuan yang meninggal akibat pemerkosaan tersebut,” kata Patten, menambahkan, “Pengamatan saya menunjukkan pola kekejaman yang meluas, termasuk kekerasan seksual terhadap wanita Rohingya dan anak perempuan yang telah ditargetkan secara sistematis karena etnis dan agama mereka. ” tuturnya, dilansir Press TV, Minggu (12/11/2017).

Ditambahkannya jika kekerasan seksual di Rakhine diperintahkan, diatur dan dilakukan oleh angkatan bersenjata Myanmar.

“Bentuk kekerasan seksual yang secara konsisten kami dengar dari korban selamat meliputi pemerkosaan geng oleh beberapa tentara, ketelanjangan dan penghinaan paksa publik dan perbudakan seksual di penangkaran militer.” tambahnya.

“Satu korban selamat ditangkap karena ditahan oleh angkatan bersenjata Myanmar selama 45 hari, selama waktu itu dia diperkosa berulang-ulang. Yang lainnya masih memiliki bekas luka, bekas luka memar dan bekas gigitan yang terbukti melakukan siksaan mereka,” kata Patten.

Pejabat PBB menambahkan bahwa kekerasan seksual adalah alasan utama di balik eksodus Rohingya dan terjadi dalam konteks “penganiayaan kolektif” minoritas.

“Ancaman dan penggunaan kekerasan seksual yang meluas jelas merupakan dorongan dan faktor pendorong pemindahan paksa dalam skala besar dan alat teror yang dihitung yang ditujukan untuk pemusnahan dan pengangkatan Rohingya sebagai sebuah kelompok.” tambahnya.

Dompet Dhuafa terus dan terus mengajak masyarakat Indonesia untuk bersimpati dan membantu ringankan beban saudara kita di Myanmar melalui rekening DD Sumsel:

BNI Syariah 969693356

Mandiri 113000.765.3474
an. Yayasan Dompet Dhuafa Republika

#Tambahkan angka 10 di donasi Anda, contoh Rp. 100.010,-

Donasi online: www.ddsumsel.org/donasi

Informari dan Konfirmasi:
Telp: 0711 814 234
WA : 0811 7811 440

Rohingya menanti kesadaran manusia di bumi untuk mengakui dan menerimanya. Rohingya, etnis yang paling teraniaya di bumi, menunggu bantuan kita yang lebih berdaya untuk menyuarakan hak-haknya. Mari bersimpati dan membantu ringankan beban mereka, karena mereka keluarga kita. We Stand For Rohingya! (WE)

Sumber: kbknews.id

bagikan ke >>

WhatsApp
Facebook
Twitter