Dukung Gerakan Indonesia Berdaya!

Tempe sempat menghilang dan konsumen yang didominasi para ibu rumah tangga, harus ‘indent’ beberapa hari kepada para pedagang. Peristiwa memalukan yang terjadi beberapa bulan lalu, menohok kita sebagai bangsa yang dahulu dikenal sebagai negara agraris dan pernah pula mencapai swa sembada pangan. Pasalnya, harga kedelai impor naik. Sedangkan kedelai produksi dalam negeri tidak bisa dipakai untuk membuat tempe dengan kualitas baik, selain jumlahnya yang tidak mencukupi.

Indonesia hampir kehilangan daya untuk memenuhi kebutuhan domestik dari pertanian dan produksi sendiri. Hampir semua kebutuhan mendasar harus diimpor. Alasannya, produksi dalam negeri tak mencukupi. Banyak lahan produktif beralih menjadi bangunan properti dan industri. Peran-peran strategis dikuasai asing, menurunkan posisi tawar kita sebagai bangsa.

Tak hanya itu, kita sering pula mendengar maraknya ‘serangan asing’ atas aset-aset nasional, mulai dari perbankan, pertambangan, sampai operator seluler. Belum lagi impor beras, garam, cabai, kedelai, daging sapi, dan lain-lain oleh pemerintah Indonesia. Kalau kondisi ini terus-menerus terjadi, lama kelamaan anak-cucu kita hanya akan ‘numpang hidup’ di negerinya sendiri.

Untuk itu, dalam rangka menyelamatkan aset-aset bangsa, para inisiator berkumpul dan merumuskan sebuah gerakan bersama bernama “Indonesia Berdaya”. Gerakan tersebut diluncurkan pada Kamis, (26/9) di Jakarta Design Centre, Jakarta. Gerakan tersebut diinisiasi lebih dari 40 tokoh nasional, pengusaha, motivator, artis, dan pembicara publik.

“Program ini jelas bermanfaat untuk Indonesia. Lahan, terselamatkan. Yatim, tersantuni. Saya dukung 100%” ungkap Ippho Santosa, salah satu penggiat gerakan Indonesia Berdaya.

Ippho Santosa menjelaskan bahwa penyelamatan aset bangsa dimulai dengan membeli lahan-lahan pertanian untuk dijadikan wakaf produktif. Lahan-lahan tersebut dibeli melalui dana sedekah bersama yang hasilnya 100% untuk anak-anak yatim dan dhuafa di sekitar aset tersebut. Dana ini dikumpulkan dari seluruh masyarakat Indonesia dan dikatakan sebagai sedekah produktif dan bahkan wakaf abadi.

Dalam sesi talkshow, Jamil Azzaini pun menambahkan bahwa zaman sekarang adalah era “kita” bukan “aku”. Hal ini menjelaskan bahwa kita tidak lagi bergerak sendiri-sendiri. Kini saatnya kita bergerak bersama, membuat gerakan yang besar dan menebar manfaat bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Dana yang terkumpul akan dikelola oleh Dompet Dhuafa, sebagai lembaga yang dipercaya untuk memegang amanah ini. Dompet Dhuafa adalah lembaga non-profit yang diaudit oleh Grant Thornton dan mendapatkan status “wajar tanpa pengecualian”. Lembaga ini dipercaya sebagai pemegang amanah dana masyarakat dikarenakan pengalaman yang telah dilalui selama 20 tahun berkontribusi untuk pemberdayaan masyarakat tidak hanya di Indonesia tetapi juga luar negeri.

Ahmad Juwaini selaku Presiden Direktur Dompet Dhuafa mengatakan, “Kami akan berusaha memegang amanah ini dengan sebaik-baiknya dan menggunakan dana ini untuk aplikasi program kemasyarakatan agar menciptakan kebermanfaatan bagi masyarakat.”

Gerakan ini diharapkan menjadi gerakan besar yang mampu menjadi solusi bagi masalah kedaulatan bangsa melalui penyelamatan aset-aset lahan pertanian di seluruh wilayah di Indonesia. Peranserta para inisiator dan penggiat gerakan ini yang meliputi tokoh nasional, pengusaha, motivator, artis, dan pembicara publik diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam menyamakan gerakan dan suara dalam kebersamaan untuk kebermanfaatan bagi Indonesia. (*/KJ-04)

bagikan ke >>

WhatsApp
Facebook
Twitter