Belajar dari Atom

Belajar dari Atom

Ilustrasi

Oleh Muttaqin Anang Toha

Allah swt berfirman:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al ‘Alaq : 1 – 5)

 

Belajarlah!

Hingga menemukan kebesaran Allah swt dan atau menjadikan kita semakin dekat dengan Allah. Dari penciptaan atom yang sangat kecil, ada pelajaran yang dapat kita amalkan, yaitu: Bahwa proton yang bermuatan positif itu posisinya selalu menyatu dengan neutron yang bermuatan netral. Sehingga terciptalah energi yang cukup untuk membuat  elektron yang bermuatan negatif tetap hanya dapat bergerak mengitari inti pada orbitnya.

Artinya bahwa hawa nafsu yang sesungguhnya bersifat netral harus selalu menyatu dengan nilai-nilai kebenaran dari Allah swt. Sehingga setan (dari bangsa jin atau manusia) tidak mampu mempengaruhinya untuk menginginkan sesuatu yang dilarang Allah.

Maka dari itu kita juga diperintahkan untuk selalu berada dalam komunitas orang-orang sholeh, agar kita senantiasa dapat menjaga iman dan Islam kita.

Pada pelajaran IPA di SMP dan kimia SMA kita pernah belajar tentang atom (bagian terkecil dari suatu benda). Bahwa atom terdiri dari elektron (bermuatan negatif), proton (bermuatan positif) dan neutron (netral). Yang uniknya adalah Proton berdekatan dengan Neutron membentuk inti atom, dan Elektron yang bermuatan negatif selalu bergerak mengitari inti atom pada suatu orbit tertentu, dan ia tidak pernah menyentuh inti atom.

Demikian juga keadaan tata surya. Subhanallah, Maha Besar Allah dalam segala ciptaan-Nya. Idealnya jumlah elektron = jumlah proton, sehingga atom tsb bisa stabil.

Tapi atom yang demikian cuma terbatas, yaitu: Atom2 pada golongan gas mulia: Helium, Neon, Argon, Krypton, Xenon dan Radon.

Karena fitrahnya atom2 tsb ingin stabil, agar bisa “mulia”, maka ia akan bergandengan/berikatan dengan atom lain. Kita juga, jika ingin stabil hidup, menjadi insan yang mendekati sempurna, kita harus menghilangkan sifat egois.

 

Bergandengan tanganlah  dalam kebaikan.

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى

Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa

 

Bersatu teguh…. Bercerai runtuh….

Atom yang kekurangan jumlah elektron (kelebihan proton = bermuatan positif) akan ridho (tidak malu) menerima kelebihan elektron dari atom lain, sedangkan yang berkelebihan elektron akan ikhlas memberikan kelebihan elektronnya, hingga keduanya membentuk senyawa yang lebih memberikan banyak keuntungan bagi sekitarnya. Ikatan ini disebut ikatan ion.

Ketika 1 atom belum cukup untuk “menutupi” kekurangan 1 atom lain, maka ia juga akan rela bersama-sama atom lain yang berkelebihan untuk bersama2 menutupi kekurangan hingga ketiganya menjadi senyawa yang stabil.

Contoh:

Atom hidrogen (H) kelebihan   1 elektron dan atom oksigen kekurangan 2 elektron untuk stabil, lalu 1 atom hidrogen bersama2 dengan 1 atom hidrogen lain akan “menutup” kekurangan atom oksigen, hingga terbentuklah 1 molekul H2O (air) yang sangat dibutuhkan manusia, hewan dan tumbuhan.

Padahal, jika ke-3 nya egois atau gengsi hingga memutuskan berdiri sendiri dengan kelebihan dan kekurangan masing2, maka ketiganya akan bersifat racun bagi manusia.

Ketika 2 atom atau lebih ketemu yang masing2 sama2 berkelebihan elektron atau masing2 sama2 berkekurangan elektron, maka mereka akan sepakat untuk saling memberi dan saling menerima. Ikatan yang terbentuk ini disebut ikatan kovalen.

Contoh ikatan kovalen adalah O2 yang kita hirup seumur hidup ini.

Kita sebagai manusia yang masing2 memiliki kelebihan atau kekurangan sudah selayaknya berlaku demikian.

Allah berfirman:

كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَى (6) أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى (7)

Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. (Al ‘Alaq : 6 – 7)

إِنَّ إِلَى رَبِّكَ الرُّجْعَى (8)

Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali (mu).  (Al ‘Alaq : 8)

Kita sebagai makhluk yang telah dikaruniai akal, harus mempergunakan akal itu untuk semakin membaguskan kualitas iman dan taqwa kita. Kita harus menyadari bahwa semua manusia memiliki kelemahan dan kekurangan, saling memaklumi dan memaafkan harus diutamakan. Lalu berlomba-lombalah membantunya memperbaiki, menutupi, atau menyempurnakan dirinya.

Tetapi ingatlah firman Allah:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu. Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesal dari jalan-Nya. dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (An Nahl : 125)

Karena bisa jadi kesalahan itu tidak sengaja…

Atau maksud hatinya sebenarnya ingin memberikan kemaslahatan…

أَرَأَيْتَ الَّذِي يَنْهَى (9) عَبْدًا إِذَا صَلَّى (10) أَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ عَلَى الْهُدَى (11) أَوْ أَمَرَ بِالتَّقْوَى (12)

Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang, seorang hamba ketika dia mengerjakan salat. Bagaimana pendapatmu jika orang yang dilarang itu berada di atas kebenaran, atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)? (Al ‘Alaq : 9 – 12)

Berlindunglah kita kepada Allah, dari melakukan sesuatu karena iri, dengki dan kebencian kepada seseorang. Apalagi dengan maksud menimbulkan permusuhan, karena Allah berfirman:

أَرَأَيْتَ إِنْ كَذَّبَ وَتَوَلَّى (13) أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَى (14)

Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling? Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya? (Al ‘Alaq : 13 – 14)

كَلَّا لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ لَنَسْفَعًا بِالنَّاصِيَةِ (15) نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ (16) فَلْيَدْعُ نَادِيَهُ (17) سَنَدْعُ الزَّبَانِيَةَ (18) كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ (19)

Ketahuilah, sesungguhnya jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka. Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya), kelak Kami akan memanggil Malaikat Zabaniyah, sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan). (Al ‘Alaq : 15 – 19)

 

Marilah kita membaca yang tersurat dan juga yang tersirat dalam segala makhluk ciptaan Allah.

 

Lalu

Bertasbihlah…..

Bersyukurlah….

Bertauhidlah….

Bertakbirlah….. dan

Bersujudlah…..

Kepada Allah Robbul ‘Aalamiin.

 

Subhanallah, alhamdulillah, walaailaahaillallah, wallahu Akbar.

bagikan ke >>

WhatsApp
Facebook
Twitter