Ancaman Narkotika Hantui Remaja Usia Sekolah

Suasana pelatihan konselor untuk Peer Counselor

Suasana pelatihan konselor untuk Peer Counselor

Dalam sehari ada 33 orang meninggal akibat penyalah gunaan narkoba dengan total korban sebanyak 12.440 orang, angka tersebut menurun jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai 55 orang meniggal per hari akibat zat haram lagi mematikan tersebut.

Data tersebut disampaikan oleh Romi Ahmad, SE selaku pembicara dari perwakilan Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Sumsel dalam kesempatan pelatihan Peer Counselor yang diadakan oleh tim Program Kesehatan Dompet Dhuafa Sumatera Selatan, Selasa (1/3/2016).

Ia menjelaskan bahwa pengurangan angka tersebut disebabkan karena berkurangnya penggunaan putau dan jarum suntik. Dan bukan karena jumlah pemakai narkotika yang berkurang.

“Secara umum, jumlah korban penyalah gunaan meningkat setiap tahunnya. Ini menjadi salah satu fokus kita dalam agenda pemberantasan narkotika,” ungkapnya dalam sesi pertama pelatihan tersebut.

Dari klasifikasi korban pengguna narkotika sendiri didominasi oleh laki-laki dengan prosentase sebesar 74,5 %. Sementara dari jenis pekerjaan; pelajar dan mahasiswa menempati posisi kedua setelah karyawan swasta selaku penggunanya dan kelompok terakhir dari kalangan tidak bekerja.

Untuk itulah salah satu materi tentang penyalahgunaan narkotika dimasukkan ke daftar materi pelatihan peer counselor yang diadakan dari tanggal 1 hingga 3 Maret 2016 di Aula Disdikpora Palembang tersebut.

Hari pertama diikuti oleh 2 sekolah perwakilan, yakni dari MA Muhammadiyah 1 dan SMA Muhammadiyah 2, dengan masing-masing 20 orang siswa perwakilan.

Peserta akan bergantian mendapatkan pelatihan. Di hari kedua akan diikuti oleh SMA Azharyah dan SMA Darul Aytam, sementara di hari terakhir diikuti oleh perwakilan dari SMA Nahdhatul Ulama.

Pada sesi tersebut, selain pemaparan tentang data-data korban penyalahgunaan narkotika, Romi juga menjelaskan akan bahaya narkotika yang sekaligus menyerang otak dan tubuh secara bersamaan.

“Jika narkotika sudah masuk dalam tubuh maka otak dan tubuh menjadi sasarannya, kemungkinannya hanya dua, jika tidak tewas pengguna tersebut akan hanya menjadi mayat hidup,” jelas Kepala Seksi Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat BNN Prov. Sumsel ini.

Tidak berlebihan jika semboyan yang dipakai BNN bagi kampanye ke pelajara dan mahasiswa adalah “Prestasi, YES. Narkoba, MATI”. Kampanye ini pun menjadi model pencegahan yang dilakukan BNN.

Sementara itu, Wulan Pratiwi selaku fasilitator program koselor tersebut mengungkapkan, “Pilihan menjadikan penyalahgunaan narkotika sebagai materi karena tingkat bahayanya yang cukup tinggi menyerang kalangan pelajar dewasa ini”. Sedangkan untuk pendekatannya digunakan metode konselor sebaya.

“Selain pembekalan mengenai bahaya narkotika, meteri lainnya yang kita bekali bagi konselor sebaya ini adalah materi tentang reproduksi remaja, lalu tentang psikologi konselor dan materi tentang keahlian konselor itu sendiri yang dikerjasamakan dengan BKKBN Prov. Sumsel,” jelas Wulan.

Program ini berangkat dari kegetiran dan perhatian DD Sumsel terhadap perilaku remaja yang sudah sampai pada tahap membahayakan, pergaulan bebas, kebiasaan merokok hingga menggunakan narkoba menjadi fenomena di remaja dewasa ini. (Wan/KJ-04)

bagikan ke >>

WhatsApp
Facebook
Twitter