Satu Bulan ‘Kebun Pangan Keluarga’ Berjalan, Progres & Kendala

Budidaya ikan (lele) dalam ember dan tanaman kangkung milik Hanif Nurdiyansah.

Palembang-Tak terasa, telah satu bulan Dompet Dhuafa Sumsel meluncurkan Program ‘Kebun Pangan Keluarga’ ditengah pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19).

Program yang diluncurkan dengan harapan, warga yang menerima bantuan bibit ikan lele, pakan, bibit sayuran, pakan, dan fasilitas lainnya, bisa memenuhi ketahanan pangan keluarga, ditengah perekonomian sulit karena virus corona.

Terus bagaimana progres dari budidaya ikan dalam ember (Budikdamber) dan tanaman sayuran di polybag dari penerima manfaat?.

Dompet Dhuafa Sumsel berkesempatan berbincang-bincang dengan Hanif Nurdiansyah, warga
Jalan Lebak Mulyo Gang Bhakti Nomor 175, Sekip Ujung, Palembang. Pria yang kerap disapa Hanif, menjadi salah satu penerima manfaat dari ‘Program Kebun Pangan Keluarga’ dari Dompet Dhuafa Sumsel.

Dompet Dhuafa Sumsel :
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Hanif apa kabar?.

Hanif :

Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, keadaan saya baik. Saya dan keluarga semua sehat.

Dompet Dhuafa Sumsel :
Hanif, tak terasa ‘Program Kebun Pangan Keluarga’ di Sumsel telah berjalan selama satu bulan. Sebagai salah satu warga penerima manfaat dari program itu, bagaimana progres dari budidaya ikan lele dan tanaman sayuran di polybag milikmu?

Hanif :
Untuk Budikdamber punya saya, Alhamdulillah sesuai dengan harapan. Kangkung yang saya tanam di pinggir ember, dimana budidaya ikan lele dipelihara, dapat tumbuh dengan subur.
Kangkung saya kini alhamdulillah sudah mulai masuk tahap pemakaian tanah pada ember.
Sementara untuk ikan lele, dari 80 ekor ikan dalam ember dengan kapasitas air 80 liter, ikan yang hidup dan terus berkembang ada 65 ekor.

Dompet Dhuafa Sumsel :
Itu artinya, ada 15 ekor ikan yang mati. Kira-kira apa yang menyebabkan ikan lele gagal bertahan hidup?
Hanif :

Jika saya perhatikan selama satu bulan terakhir, hal itu tampaknya karena kesulitan mengatasi PH atau tingkat keasaman dari air itu sendiri. Apalagi saat ini cuaca terbilang cukup ekstrim.
Cuaca berubah-ubah, hal itu semakin membuat kondisi air di dalam Budikdamber cepet bau.

Dompet Dhuafa Sumsel :
Untuk dapat mengatasi hal itu, apa yang kamu lakukan, sehingga 65 ekor yang ada bisa di panen dengan berat ideal?.

Hanif :

Untuk mengatasi kendala ini, ya dengan selalu sering menganti air. Apalagi, kini ikan lele yang ada telah tumbuh dengan besar, sehingga intensitas pergantian air harus lebih sering. Cara itu pun, saya yakin akan dapat mengatasi perubahan cuaca yang kini terus berubah-ubah.

Dompet Dhuafa Sumsel :
Saat ini, ada 65 ekor ikan lele yang hidup. Seberapa besar ukuran dan bagaimana progresnya untuk dapat berkembang dan bisa dipanen pada waktunya?.
Hanif :
Dari 65 ekor ikan lele, ada 30 ekor yang tadinya dari benih terus membesar. Kini ukurannya lebih kurang 15 cm, sementara 35 ekor lagi lebih kurang 10 cm.

Dompet Dhuafa Sumsel :
Kembali ke kangkung yang juga ditanam di budikdamber, bagaimana pertumbuhannya setelah kini tumbuh di tanah?.

Hanif :

Perihal kangkung Alhamdulillah sudah mulai masuk tahap pemakaian tanah pada ember, dan itu membuat perkembangan kangkung yang tadi batangnya tidak terlalu besar, kini telah membesar.

Dompet Dhuafa Sumsel :
Terakhir, soal bibit cabe, sawi dan slada serta tomat, bagaimana progres buat panen?.

Hanif :
Tingkat pertumbuhannya dibandingkan dengan bibit kangkung terbilang cukup lambat. Dan sempat beberapa bibit tersebut ada yang tumbuh, tapi ada juga yang gagal.
Hal itu dikarenakan ada gangguan dari burung liar dan tikus yang memakan tunas bibit.
Tapi, tingkat keberhasilannya tetap tinggi. Kini semua bibit itu tumbuh dengan subur dan mudah-mudahan bisa membuahkan hasil maksimal dalam beberapa bulan kedepannya. zal

Posted in Keterampilan Dhuafa, Pemberdayaan Dhuafa, Pemberdayaan Pertanian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *