Saat Penerima Beasiswa Insan Madani Belajar Menyulap Sampah Jadi Produk Bernilai Tinggi

Siswa penerima BIM DD Sumsel kagumi topi hasil kerajinan tangan yang terbuat dari kertas koran dan produk lainnya.

Palembang-Ketika banyak anak memilih libur sekolah akhir pekan, untuk pergi ke mal, bermain game atau menghabiskan waktu bersama teman-teman, siswa-siswi penerima Beasiswa Insan Madani (BIM) justru memilih menyambangi Bank Sampah KGS yang berada di Jalan Sersan Zaini, nomor 27, RT 2 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang.
Sebanyak 21 siswa penerima BIM yang hadir ini, tidak datang dengan tangan kosong. Mereka membawa sampah plastik yang bisa didaur ulang untuk menjadi produk yang punya nilai jual.
Sampah-sampah plastik ini, hasil penerima BIM DD Sumsel ini, membersihkan lingkungan di kawasan Kalidoni, Kambang Iwak dan Monpera.
Saat tiba di Bank Sampah KGS, rombongan langsung diterima pengrajin Welis Fatimah, yang memang sudah menunggu. Welis bersama rekannya langsung menunjukkan benda-benda kerajinan tangan yang terbuat dari sampah rumah tangga.
Mulai dari tempat pencil, topi, wadah tisu, tempat buah-buahan dan benda lain dari bahan koran bekas. Selain itu ada juga, tas dari bungkus permen, kembang dari botol minuman dan masih banyak lagi.
Para siswa tampak takjub melihat hasil kerajinan tangan dengan bahan sampah rumah tangga ini. Apalagi, setelah mendengar jika sampah yang sudah disulap menjadi benda bermanfaat ini, dibanderol dengan harga Rp50.000 sampai Rp150.000.

Belajar menggulung kertas koran, sebagai langkah awal buat produk kerajinan yang punya nilai jual tinggi.

Rasa lelah usai memunggut sampah di tiga titik dan perjalanan menuju Bank Sampah KGS pun hilang sekejap. Semua siswa menjadi sangat tertarik dan bersemangat untuk belajar membuat benda-benda dari koran bekas itu. Apalagi di sekolah, mereka juga kerap menerima tugas serupa.
Pengrajin Bank Sampah KGS pun tak pelit dengan ilmunya. Welis bersama rekannya, langsung mengajarkan tekhnik mengulung kertas koran dengan menggunakan kawat.
‘Ala bisa karena biasa’, pepatah ini tampaknya tepat mengambarkan kesulitan yang dialami para siswa penerima BIM ini. Setelah mengalami beberapa kali kegagalan dan menghabiskan beberapa lembar koran, akhirnya gulungan berkualitas mampu dihasilkan beberapa siswa.

“Butuh setidaknya 50 gulungan untuk membuat tempat pena dan pensil dari koran bekas. Nanti, gulungan ini dianyam dan direkatkan menggunakan lem,” ungkap Welis.

Foto bersama

Ia pun menyampaikan kepada penerima BIM untuk tidak sungkan datang kembali ke Bank Sampah KGS untuk belajar membuat benda lain dari sampah rumah tangga.
“Kita memang biasa menerima kunjungan dari mereka yang tertarik untuk belajar. Kita sering mengajari ibu-ibu, sudah banyak sekali. Tapi yang aktif, atau ada tabungan sampah di sini, ada 13 orang,” jelasnya.
Bank Sampah KGS juga kerap ikut dalam pameran-pameran. Terakhir, produk hasil tangan mereka, di pamerkan di Jakarta Oktober tadi.
Di tempat yang sama, Desty Rina Purnamasari dari Devisi Program Pendidikan Dompet Dhuafa Sumsel, sangat puas dengan kunjungan ke Bank Sampah KGS. Adik-adik penerima BIM dari DD Sumsel dapat ilmu yang bermanfaat.
“Mereka jadi mengetahui, jika sampah-sampah plastik itu, bisa dikelola menjadi sebuah produk yang mampu dipasarkan. Mereka pun bisa belajar langsung selama berada di Bank Sampah KGS,” ucapnya.
Para siswa pun, mengetahui tentang sampah apa saja yang bisa di daur ulang menjadi sebuah karya spektakuler.
“Mereka belajar mengulung kertas, menyortir sampah-sampah yang bisa didaur ulang,” jelasnya. Zal

Posted in Beasiswa, Pendidikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *