Press Release: Karena Mereka Keluarga Kita, We Stand For Rohingya

We Stand For Rohingya

We Stand For Rohingya

Terulang lagi! Gelombang pengungsi Rohingya kembali menyentak kita. Setelah ‘Manusia Perahu’ yang lalu, kini puluhan ribu anak dan wanita mengungsi ke Banglades. Mereka harus memilih mati terbakar bersama desanya, atau pergi terserah mau kemana, Pemerintah Myanmar berkilah bahwa kaum Rohingya adalah imigran gelap dari Bangladesh. Pemerintah Burma mengingkari hak kewarganegaraan kaum Rohingya, walaupun banyak data menunjukkan bahwa mereka telah menetap di sana selama beberapa generasi.

Duka dan derita sudah menjadi teman akrab etnis Rohingnya selama puluhan tahun. Masih segar dalam ingatan 5 tahun lalu konflik pecah di Myanmar awal nestapa merenggut ratusan jiwa dan ratusan ribu lainnya mencoba menyelamatkan diri, etnis Rohingya masih tak jelas arah hingga hidup terlunta. Mereka ditolak di negara sendiri, tidak diterima oleh beberapa negara tetangga, miskin, tak punya kewarganegaraan, dan dipaksa meninggalkan Myanmar dalam beberapa dekade terakhir.

Sejak pada (26/8). konflik kemanusiaan kembali pecah di Buthidaung, Rakhine State, Myanmar. Konflik dipicu oleh penyerangan sekitar 30 kantor polisi sehari sebelumnya. Akibatnya, beberapa hari kemudian korban meninggal dan terusir terus bertambah, terutama anak-anak dan wanita.

Etnis Rohingya terus mengalami penderitaan bertubi-tubi,masyarakat sipil termasuk perempuan dan anak-anak menjadi korban dari aksi tersebut, rumah-rumah mereka hancur sehingga memaksa mereka berpindah untuk mencari tempat yang lebih aman. Para pengungsi, menurut Jubir UNHCR, Vivian Tan, sebagian kaum perempuan, manula dan anak-anak, dalam kondisi lelah, kelaparan, kehausan serta kekurangan asupan nutrisi setelah menyusuri hutan dan rawa-rawa, menembus bukit dan lembah puluhan kilometer menuju Banglades.

Derasnya arus pengungsi dari wilayah Rakhine sangat membebani perekonomian Banglades yang harus menghidupi 160 juta penduduknya dan yang sampai kini masih berstatus negara miskin. Sebelum konflik terakhir pecah saja, Banglades sudah menampung sekitar 400.000 pengungsi Rohingya di camp penampungan pengungsi sementara di kawasan Cox’s Bazar, di dekat perbatasan dengan Myanmar, kini pasca bentrokan antara milisi Pasukan Pengawal Rohingya (ASRA) dan pasukan Myanmar (26/8) lalu, Banglades kebanjiran 300.000 pengungsi baru yang mengalir masuk dari tapal batas dalam kondisi lapar, gizi buruk atau sakit.

Otoritas keamanan Banglades mencemaskan, kehadiran pengungsi Rohingya akan dimanfaatkan oleh kelompok militan untuk merekrut anggotanya dan menyusup di tengah tragedi kemanusiaan yang terjadi. Selain itu dikhawatirkan pula, para pengungsi Rohingya akan merembes ke wilayah-wilayah lain di Banglades sehingga berpotensi memicu konflik horizontal dengan warga setempat. Pemerintah Banglades mengusulkan pembentukan zona aman di wilayah Myanmar guna mencegah mengalirnya pengungsi baru, namun diragukan bakal diterima oleh pemerintah Myanmar yang menganggap etnis Rohingya sebagai pendatang haram.

Berbagai kisah pilu saudara kita (Muslim Rohingya) ini telah ‘memutar roda – roda’ rasa kemanusiaan di hati umat manusia. Ahad (17/9) dini hari, Tim #SaveRohingya Dompet Dhuafa terbang menuju Dhaka membawa Amanah para donatur di Indonesia, Tim bergerak cepat untuk mendistribusi bantuan langsung ke titik pengungsian Distrik Cox Bazar, Bangladesh. Berdasarkan info yang dihimpun tim Dompet Dhuafa, sedikitnya 400 ribu pengungsi Rohingya sudah ada di lokasi tersebut.

Dompet Dhuafa telah mempersiapkan tiga desain respon di Rohingya, Pertama adalah water and sanitasion, yaitu sebagai langkah intervensi kawasan-kawasan pengungsian, dan juga lokasi pergerakan pengungsi di perbatasan antar negara.

Kedua adalah di lini pendidikan, melalui Sekolah Guru Indonesia atau Sekolah Literasi Indonesia dengan menghadirkan para pendidik terbaik. Sehingga sistem yang ada di program sekolah guru tersebut dapat diaplikasikan di pengungsian.

Kemudian untuk di kawasan pergerakan pengungsi di perbatasan antar negara, Dompet Dhuafa menghadirkan School For Refugee. Bahkan School For Refugee telah berjalan sejak kedatangan manusia perahu atau pengungsi dari Rohingya yang masuk ke sejumlah wilayah di Medan dan Aceh di periode 2015 dan 2016. School For Refugee juga banyak diadopsi dan mendapatkan penghargaan dari UNHCR.

Ketiga adalah program Livelihood atau pendekatan ekonomi yang dilakukan Dompet Dhuafa dengan merancang Peace Concept Pasar Ramah yang bertujuan untuk memunculkan interaksi yang kuat dan transaksi pragmatis para pihak yang bersengketa saat ini. Adanya pasar tersebut, kita berharap dapat menciptakan interaksi yang bagus dan juga menimbulkan saling ketergantungan di antara mereka. Sehingga terbangun kesadaran bahwa mereka sebenarnya saling membutuhkan, bukan saling berperang.

Donasi yang terhimpun melalui Dompet Dhuafa (DD) Sumsel sendiri hingga Rabu (20/9) sudah mencapai Rp 146.600.000,-, dan terus dihimpun untuk nantinya disalurkan ke Muslim Rohingya yang membutuhkan. Donatur bisa berdonasi langsung ke kantor DD Sumsel, atau bisa juga via reknening DD sumsel:

.Mandiri 113000.765.3474
an. Yayasan Dompet Dhuafa Republika

#Tambahkan angka 10 di donasi Anda, contoh Rp. 100.010,-

Donasi online: www.ddsumsel.org/donasi

Informari dan Konfirmasi:
Telp: 0711 814 234
WA : 0811 7811 440

Rohingya menanti kesadaran manusia di bumi untuk mengakui dan menerimanya. Rohingya, etnis yang paling teraniaya di bumi, menunggu bantuan kita yang lebih berdaya untuk menyuarakan hak-haknya. Mari bersimpati dan membantu ringankan beban mereka, karena mereka keluarga kita. We Stand For Rohingya!

Posted in Kemanusiaan and tagged .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *