Penyerahan Aset Wakaf Benda Seni, Pertama dalam Sejarah Dompet Dhuafa

DSC06226

Dompet Dhuafa memperkuat pendekatan budaya sebagai salah satu elemen penting dakwah Islam di Tanah Air. Upaya citra budaya Nusantara ini diangkat kembali dalam tajuk ‘GELAR BUDAYA SULUK NUSANTARA: EkspresiSeni Memahami Ilahi’. Sebuah sinergi antara Dompet Dhuafa dan Paguyuban Budaya Suluk Nusantara ini diselenggarakan pada Sabtu (27/1). Bertempat di sebuah Pendopo Mulyo Budoyo yang berada di Perumahan Depok Mulya 1 Blok K No. 90, Jl. H. Asmawi, Beji, Kota Depok, Jawa Barat.

Pada gelaran ini, untuk pertama kalinya dalam sejarah Dompet Dhuafa, menerima penyerahan aset wakaf benda seni yaitu gamelan. Satu set alat musik tradisional ini secara resmi diserahkan kepada Dompet Dhuafa oleh Trusti Mulyono, Kepala Yayasan Sayap Ibu Bintaro, sekaligus seorang pegiat budaya dan mantan penari nasional. “Semoga bisa terus berguna, terutama dalam melestarikan kesenian dan budaya”, tutur Trusti, saat memberikan sambutan disela-sela rangkaian serah-terima wakaf.

Aset wakaf gamelan tersebut, secara simbolis diterima oleh Ketua Yayasan Dompet Dhuafa, Ismail A. Said. Kemudian diamanahkan kepada Paguyuban Suluk Nusantara, yang diterima langsung oleh pendirinya, Bambang Wiwoho, untuk diberdayakan. “Gamelan ini sudah menemukan rumahnya”, ungkap Trusti, haru.

Dompet Dhuafa melihat adanya komitmen nyata dan jangka panjang terhadap pelestarian seni dan budaya Jawa dari Paguyuban Budaya Suluk Nusantara. Hal ini sejalan, yakni hendak menggerakkan masyarakat untuk membentangkan nilai-nilai kebaikan, termasuk melalui budaya. Bagi Ketua Dewan Pembina Dompet Dhuafa, Parni Hadi, Indonesia bisa tetap dipandang menjadi bangsa bermartabat dalam menanamkan nilai budaya melalui dakwah sebagai pendekatan agama. “Untuk mencapainya, yang terpenting adalah rasa. Kalau belum bisa merasa, maka tidak bisa memahami dan mencapai tujuan tersebut”, pungkas Parni Hadi.

Sang budayawan, Bambang Wiwoho, mengatakan, “Seni yang populer di Jawa ini penuh dengan pesan moral kehidupan, sehingga banyak digunakan sebagai media dakwah para ulama”. Melalui gelaran dan amanah wakaf dari Dompet Dhuafa ini, beliau berharap berdakwah melalui budaya suluk dan mocopat bisa dilestarikan, terutama kepada generasi muda.

Pada rangkaian acara ini, para anggota Paguyuban menampilkan Mocopatan atau seni suara berupa tembang khas Jawa, musik keroncong, musikalisasi puisi, maupun sajak dengan iringan gamelan. Aksi wayang kulit, pun penampilan seni tari oleh dua orang remaja wanita dengan kostum tradisional ksatria merah nan berhijab, yang membawa aksesoris senjata alat panah.

Suluk, dalam Bahasa Jawa, memiliki makna sebuah jalan atau cara. Pada masa terdahulu, para ulama dan tokoh agama melakukan dakwah melalui seni budaya untuk menyebarkan dan mengembangkan agama Islam di Pulau Jawa. Bukan dengan dakwah langsung ataupun berperang. Maka, kaitan dalam agama Islam, suluk merupakan jalan untuk mendekatan diri menuju Allah SWT.

Silahkan dibagikan...Share on Google+Share on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someoneShare on LinkedInPrint this page
Posted in Artikel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *