Mengurai Benang Kusut Kesadaran Muzakki dan Keberadaan Lembaga Zakat

Penulis: Haryono (Manajer Divisi Madrasah Ummat)

Ada fenomena menarik di tengah-tengah umat Islam dalam kurun waktu yang cukup lama dan terjadi sampai saat ini. Di satu sisi kita patut bangga dengan semakin banyaknya berdiri lembaga zakat di Indonesia dan di Palembang khususnya. Setiap lembaga mencoba berhikmat untuk memberikan pengabdian kepada masyarakat dengan berbagai macam program dan tentunya dalam hal ini mustahik sebagai penerima manfaatnya.

Di sisi lain ada sebuah fenomena cukup menarik, di mana sebagian besar masyarakat muslim belum mempunyai kepercayaan kepada sekian banyak lembaga pengelola dana zakat. Ini adalah titik gelap yang membutuhkan penerangan. Sehingga kita tahu apa yang dikehendaki lembaga zakat kepada masyarakat muslim dan apa yang dikehendaki oleh masyarakat muslim terhadap sebuah lembaga zakat. Dengan demikian, kita harapkan adanya kerja sama yang cukup baik dan rapi dalam memberikan nilai manfaat yang besar bagi kemandirian para mustahik.

Harapan lembaga zakat
Lembaga zakat adalah lembaga yang mengelola dana zakat, infak dan sedekah. Poin penting yang diperjuangkan sebuah lembaga zakat adalah membangkitkan kesadaran masyarakat untuk berzakat melalui lembaga zakat. Filosofinya, ibarat sapu lidi yang tercecer di mana-mana. Tidak mungkin kita membersihkan halaman yang penuh guguran dedaunan hanya dengan menggunakan satu, dua, atau tiga buah lidi. Walaupun lidi banyak jumlahnya namun kalau tidak disatukan, niscaya tidak akan bisa membersihkan kotoran yang ada. Hal yang samapun terjadi pada pengelolaan dana zakat, begitu besar potensi dana zakat, infak, dan sedekah dari umat Islam.

Namun karena potensi ini tercerai berai, maka dana zakat di tengah umat Islam terkesan tidak punya kekuatan berarti. Bayangkan ketika dana-dana ini terhimpun dalam sebuah lembaga zakat, maka begitu banyak yang bisa dilakukan untuk memberikan perubahan kepada kaum dhuafa. Sekolah gratis, rumah sakit gratis dan lembaga-lembaga perekonomian yang berpihak kepada dhuafa’ pun bisa dibangun, apabila umat Islam mampu bekerja sama dalam menunaikan kewajiban membayar zakat.

Tidak sedikit masyarakat muslim yang meragukan keberadaan lambaga amil zakat, padahal sistem pengelolaan dana zakat melalui lembaga dicontohkan oleh rasul dan para sahabat. Banyak yang bisa kita ikut-sertakan untuk mendapatkan kebaikan dari zakat yang kita salurkan melaui lembaga amil zakat. Di samping kita telah menunaikan kewajiban membayar zakat, yang kedua saudara-saudara kita yang ada di lembaga amil zakat mendapatkan kebaikan bekerja menyalurkan dana zakat kepada para mustahik. Dan yang ketiga manfaat yang selalu tetap terjaga adalah mustahik mendapatkan manfaat tidak hanya dalam bentuk dana namun yang juga jauh lebih penting adalah pembinaan mentalitas untuk melakukan perubahan.

Orang miskin (mustahik) tidak cukup hanya diberi dana agar mereka bisa mandiri. Mereka perlu dibina mentalitasnya, motivasi berusahanya, visi masa depanya, dan itu semua tidak bisa dilakukan manakala dana zakat diberikan langsung oleh muzakki kepada mustahik. Belum lagi dari sisi penggunaan dana, boleh jadi dana zakat yang di berikan secara langsung akan dipergunakan untuk membeli kebutuhan-kebutuhan yang sesaat yang sama sekali tidak mendukung proses kemandirian. Fungsi-fungsi pendampingan bisa dilakukan manakala zakat disalurkan melalui lembaga zakat.

Proses penyaluran zakat bukanlah melestarikan kemiskinan, kalau tahun ini seorang mustahik menerima dana zakat maka tahun berikutnya kita harapkan sang mustahik bisa mandiri dan tidak lagi menerima zakat. Dana zakat bisa menjadikan mustahik menjadi muzakki. Tanpa mengurangi rasa kepercayaan kepada lembaga zakat, kitapun bisa memberikan masukan dan saran agar lembaga-lembaga Islam dan lembaga zakat dalam hal ini, bisa menjadi lembaga umat Islam yang terdepan, amanah dan profesional. Inilah hakikat dari shalat berjamaah yang sering kita lakukan, adanya kerja sama di antara umat Islam untuk melakukan kebaikan di tengah umat. (*)   

Posted in Artikel and tagged .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *