Mengenal Lebih Dekat Ustadz Muttaqin dari Cordofa DD Sumsel

Ustadz Muttaqin Anang Toha, anggota Corps Dai Dompet Dhuafa (Cordofa) Sumatera Selatan.

Palembang-Ustadz Muttaqin Anang Toha, salah satu anggota Corps Dai Dompet Dhuafa (Cordofa), Sumatera Selatan. Ustadz asal Desa Burai, Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir ini, pertama kali bergabung Dompet Dhuafa (DD) Sumsel tahun 2016.

Saat itu, ia diminta DD Sumsel untuk bergabung dan berdakwah di salah satu radio di Palembang.

“Saya diminta mengisi ceramah agama di Radio Smart FM. Saat itu bulan suci Ramadhan,” ceritanya.

Setelah itu, setiap tahunnya ia rutin menjadi penceramah, setidaknya dua kali setiap bulan suci Ramadhan di Radio Smart FM.

“Selanjutnya, saya masuk menjadi salah satu anggota Cordofa DD Sumsel bersama ustadz-ustadz lainnya,” jelasnya.

Menjadi anggota Cordofa DD Sumsel, senada dengan jalan hidupnya sebagai ustadz, karena sama-sama menyuarakan soal ajaran Islam dan berdakwah.

Terbaru, kini ia dipercaya untuk memberikan tausiah di majelis taklim di Musholla Azhadi, Kelurahan 7 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I Palembang.

Majelis taklim ini, diperuntukkan buat kaum dhuafa yang menjadi member Klinik Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC) Dompet Dhuafa Sumsel.

“Saya akan jalankan amanah ini dengan sebaik mungkin,” ucap Ustadz yang kesehariannya guru di SMA Negeri 1 Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir ini.

Di luar itu, Ustadz Muttaqin, mempunyai 20 unit pengajian/majelis taklim yang ia pimpin. Tersebar di wilayah Kabupaten Ogan Ilir, seperti di Kecamatan Payaraman (4 kelompok pengajian), Desa Rengas (2 kelompok pengajian), dan masing-masing satu kelompok pengajian di Desa Srikembang, Desa Burai, Kelurahan Tanjung Batu Barat, Kelurahan Tanjung Batu Timur, Desa Tanjung Batu Seberang, Desa Sentul, Desa Tanjung Laut, Desa Tanjung Bulan, Desa Kandis, Talang Dukun, PTP Cinta Manis, Desa Fajar Bulan, Kecamatan Indralaya Induk, dan Kecamatan Indralaya Utara.

Ustadz Muttaqin juga menjadi perwakilan dari biro perjalanan umrah Zafatour. Pada 21 Oktober nanti, ia bertugas mendampingi 14 jamaah menjalankan ibadah umrah.

Ia juga merupakan Ketua Yayasan Tarbiyah Syamilah yang bergerak di bidang keagaman, sosial dan pendidikan.

“Tapi, untuk sementara baru jalan dua yakni keagamaan dan sosial. Pendidikan belum, tapi rencananya saya ingin mendirikan pondok pesantren,” harapnya.

Pendidikan memang tak bisa lepas dari dirinya. Itu karena basic sang ustadz adalah seorang guru (Aparatur Sipil Negara) di SMA Negeri 01 Tanjung Batu.

Namun, sebelum berstatus ASN, ustadz punya perjalanan panjang yang penuh perjuangan dalam karirnya.

Ustadz Muttaqin menyelesaikan pendidikan di SMA tahun 1995. Kemudian ia melanjutkan ke Universitas Sriwijaya (UNSRI) jurusan Elektro.

Pada tahun 1996, sembari kuliah, ia mulai belajar mengajar dan menjadi honorer di MTS di Desa Burai, tempat kampung halamannya.

Pada tahun 2000, ustadz Muttaqin menjadi guru honorer di SMA Negeri 01 Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir.

“Jadi waktu itu, saya mengajar sambil kuliah. Pada tahun 2001, saya baru menyelesaikan kuliah,” ujarnya.

Lima tahun mengajar membuatnya sudah terlanjur cinta mati dengan dunia pendidikan, sehingga tidak tertarik lagi dengan profesi lain. Ia terus melanjutkan karirnya sebagai seorang guru dan sekaligus berdakwah lewat Rohani Islam (Rohis) pada kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.

Tapi, sebuah ujian cukup berat bagi seorang honorer adalah pendapatan yang tidak besar. Belum lagi, gelarnya yang bukan Sarjana Pendidikan, melainkan Sarjana Elektro, membuat peluangnya menjadi menjadi ASN sudah pasti tidak ada.

“Tapi Allah SWT selalu memberikan rezeki yang cukup, jadi semua tetap terasa ringan. Allah SWT pun, selalu memberikan jalan bagi hambanya. Pada tahun 2006 saya ambil kuliah Akta IV,” ungkapnya.

Pasca menyelesaikan pendidikan Akta IV, ustadz Muttaqin tak langsung jadi ASN. Ia masih berjuang sebagai guru honorer.

“Baru pada tahun 2014 saya diangkat jadi ASN lewat jalur Tenaga Honorer Kategori 2. Saya mengajar pelajaran matematika. Jadi lebih kurang 14 tahun menjadi guru honor,” ungkapnya.

Sebuah proses dan perjalanan yang panjang. Intinya, terus berikhtiar dan percaya jika Allah SWT pasti memberikan jalan terbaik buat hambanya. (Zal)

Posted in Artikel, Dakwah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *