Menapaki Jejak Kartini, Jejak Perjuangan Sunyi yang Menginspirasi

hari kartini

Menurut data Badan Pusat Statistik, 49,75 persen dari penduduk Indonesia pada 2013 adalah perempuan. Angka ini menunjukkan besarnya potensi perempuan dalam turut menentukan kemajuan Indonesia di berbagai bidang.

Meski sangat potensial, partisipasi perempuan di posisi kepemimpinan diketahui masih terbatas. Tercatat, baru delapan dari 34 menteri (23,5persen) di Kabinet Kerja pemerintahan yang perempuan. Sementara di DPR, dari 560 anggota DPR RI periode 2014-2019, baru 97 orang di antaranya (17,3 persen) perempuan. Dari 70 BUMN, diketahui dari situs resminya, ada 354 direksi dan hanya 28 orang perempuan.

Di Indonesia kita kenal Raden Ajeng Kartini sebagai simbol perjuangan Wanita Indonesia. Beliau juga merupakan pelopor dari gerakan emansipasi Wanita. Ia dengan gigih membela dan memperjuangkan hak-hak kaum Wanita. Serta, beliau rela berdiri dipaling depan demi menyuarakan bahwa Wanita berhak bebas dan terlepas dari belenggu kaum penjajah. serta Wanita tak semestinya dijajah oleh kaum Pria.

Kebebasan Wanita pada saat itu sangat dibatasi. Budaya patriarki sangat didewakan pada masa itu. Kedudukan dan derajat Wanita dianggap lebih rendah daripada Pria. Oleh karena itu, mereka tidak memiliki kebebasan sebagaimana yang dimiliki oleh kaum Pria. Baik itu kebebasan mengeyam pendidikan, kebebasan bekerja, kebebasan memiliki jabatan bahkan kebebasan atas pendapat. Semua hal tersebut tidak dimilik oleh kaum Wanita.

Atas dasar itulah Raden Ajeng Kartini sebagai seorang gadis yang dilahirkan di lingkungan priayi dan dari keluarga yang maju. merasa bahwa dirinya harus membawa kaumnya dari belenggu adat istiadat masyarakat, yang berpendapat bahwa “Derajat Wanita itu lebih rendah daripada kaum Pria”.

Kartini mengawali perjuangannya dengan mencoba mendirikan sekolah untuk anak-anak gadis di kota kelahirannya Jepara. Ia merasa bahwa ia harus mengangkat derajat dan martabat seorang wanita melalui ilmu pengetahuan. Berbekal tekad dan kemauan keras ia terus berupaya dalam rangka memperbaiki nasib kaum wanita disekitarnya. Atas dasar itulah Kartini terus tergerak hatinya untuk membawa perubahan dan mengupayakan gerakan emansipasi Wanita pada saat itu.

Kartini adalah salah satu contoh dari keteguhan menggapai impian itu. Dan sejumlah sosok perempuan memiliki keteguhan yang sama, yang di setiap bidang yang digelutinya terus berjuang mewujudkannya.

Ada yang menjadi pemimpin di perusahaan, membawahi ratusan orang dan mengajak perempuan lain memiilki mimpi yang sama untuk terus maju. Ada juga yang menuangkannya lewat goresan pena dan nada lewat musik, memberi suara pada perempuan lewat film, atau mengembangkan kebaya sebagai kain tradisional yang patut dibanggakan di kancah dunia. Setiap perempuan yang berdaya mampu menjadi inspirasi untuk bidang yang digelutinya.

Hari Kartini kemudian mengingatkan kita akan pentingnya ide dan gagasan, Kartini menuliskan gagasannya, ada ide, kata-kata dan disampaikan dengan cara yang benar, baik dan langgeng.

Potret Kartini modern barangkali banyak kita temui, namun tidak semua diketahui. Belajar dari para relawan yang mengorbankan sebagian waktu luang dan sibuknya untuk perjuangan-perjuangan yang tidak tampak namun memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan orang lain adalah sikap paling bijak dalam meneladani, menghargai, dan mengenang Ibu kita Kartini.

Tepat pada 21 April tahun ini, adalah tahun yang seharusnya kita tak lagi berdiam diri. Tetapi bergerak untuk ikut memperjuangkan kehidupan orang-orang yang memang patut untuk diperjuangkan. Tidak peduli dari mana mereka berasal, tak peduli apa warna suku dan agama mereka. Sebab berbagi itu indah meski harus melewati jalan sunyi, yang tidak banyak orang berlalu lalang mengorbankan banyak hal yang ia miliki. Jalan sunyi yang tak banyak orang-orang sudi sekedar menyingkirkan duri-duri yang menghalangi.

Kiprahnya diharapkan menjadi cahaya yang memberikan energi bagi wanita-wanita lain untuk ikut berjuang. Sudi membersamai di jalanan panjang yang kata orang ‘sunyi’. Sebab Kartini tampil bukan hanya untuk memperjuangkan hak-hak para wanita tetapi menjadi teladan serta membuka mata jiwa kita untuk mengikuti jejaknya. (we)

Posted in Dakwah, Kemanusiaan, Pendidikan, Sosial Media.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 views