Melepas Konsultan, Akankah Program SLI Ogan Ilir Bertahan?


Ogan Ilir – Hari Selasa, 27 Agustus 2019 telah dilaksanankan acara Pelepasan Konsultan dan Penutupan Program Sekolah Literasi Indonesia Kabupaten Ogan Ilir. Acara ini dihadiri oleh pimpinan cabang Dompet Dhuafa Sumatra Selatan yaitu Bapak Kusworo Nursidik, Lc, Kepala Kementrian Agama Ogan Ilir yaitu Bapak H. Kholil Azmi, S.Ag, pihak Dinas Pendidikan Ogan Ilir diwakili Bapak Hasnan Riadi, M.Pd dan Bapak Saihusin, S.Pd, serta kepala sekolah, seluruh guru, dan sebagian siswa dan dari enam sekolah dampingan di Ogan Ilir (SDN 08 Indralaya Utara, SDN 14 Indralaya Utara, SD 24 Indralaya, SD Pidua Meranjat, MI Masdarul Ulum, MI Syafa’atut Thulab.

Kegiatan dilaksanakan di Aula UPTD PSRABH Dinas Sosial dimulai pukul 09.15 WIB dengan dipandu oleh Ibu Isnaini Suryati, S.Ag. Setelah rangkaian pembukaan dilaksanakan, Bapak Kusworo mengawali sambutannya. Para peserta acara diingatkan kembali oleh beliau bahwa seluruh dana yang digunakan untuk program Dompet Dhuafa bersumber dari ziswaf. “Seluruh program Dompet Dhuafa menggunakan dana ziswaf dari donatur. Harapannya seluruh program terlaksana dengan baik, begitupun program SLI. Meski sudah tidak didampingi, semoga seluruh sekolah dapat mandiri menjalankan programnya.”

Sebagai penerima manfaat, enam sekolah di Ogan Ilir terus berusaha untuk meningkatkan kualitas pendidikannya. Menyelangi agenda sambutan, terdapat tiga sekolah yang menampilkan kebolehan para siswa, di antaranya adalah MI Masdarul ulum dengan hafalan surah para siswanya, MI Syafa’atut Thulab dengan penampilan dai ciliknya, dan SDN 08 Indralaya Utara dengan hafalan surah serta seni rebananya. Bapak Kholil Azmi mengaku sangat bangga melihat penampilan peserta didik dari sekolah dampingan. “Sekolah-sekolah telah memanfaatkan adanya konsultan (pendamping) untuk meningkatkan proses pembelajaran, seperti adanya program tahfizh. Guru-guru dan kepala sekolah harus terus meningkatkan mutu pendidikan baik IPTEK maupun IMTAK.”

Beragam prestasi telah banyak diraih oleh sekolah dampingan, prestasi yang terhangat adalah juara pertama kostum terunik pada karnaval tingkat kabupaten saat memperingati HUT Republik Indonesia. “Setelah didampingi, sekolah kami yang awalnya berjalan sekarang bisa berlari, “ ungkap Bapak Nukman H. Makmun. Prestasi sekolah lainnya pun terlihat dalam bidang pramuka, keagamaan, dan seni bela diri. Sudah menjadi target dalam pendampingan SLI bahwa setiap sekolah harus mampu unggul dalam prestasi baik selama dua tahun pendampingan dan seterusnya. Ke depannya, enam sekolah di Ogan Ilir menjalankan program secara mandiri. Tidak ada pendampingan oleh konsultan akan tetapi semua sekolah tetap tergabung dalam Jaringan Sekolah Literasi Indonesia.

Acara ini pun turut melepas dua konsultan relawan Ogan Ilir angkatan 2 yang sudah purna tugas yaitu Ravika Lisa Indra dan Nida Fadlilah. Nida dan Ravika berharap agar program SLI tetap bertahan di setiap sekolah. “Kami sangat berharap agar seluruh sekolah dampingan tetap menjalankan program literasi guru dan program literasi siswa meski setiap pekannya tidak ada konsultan yang berkunjung,” tutur Nida. Kegiatan usai pukul 12.30 WIB. Semoga harapan semua pihak untuk mempertahankan program SLI di Ogan Ilir dapat terwujud. Sebagai sekolah bintang dua dan bintang tiga, enam sekolah di Ogan Ilir memiliki potensi yang besar untuk tetap benar-benar menjadi Sekolah Literasi Indonesia.

Posted in Beasiswa, Pendidikan, School of Master Teacher, Zakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *