Kisah Devianti, Merangkak Bersama Bayi Saat Likuifaksi, dan Keguguran Di Pengungsian

Jumat sore, 28 September 2018, Devianti sedang asik bermain dengan anaknya, Zulfin (7 bulan). Sambil mengelus perutnya yang sedikit membuncit, ia membayangkan rupa anak keduanya. Dua bulan sudah, Devianti mengandung anak keduanya. Sesaat kemudian, suaminya datang dari berladang. Sekitar 30 karung padi baru saja dipanen. Rencanaya akan segera dijual keesokan harinya. Di dalam rumah, ada mertua dan keponakan yang sedang bersantai menikmati pergantian hari.
.
Tiba-tiba bencana itu datang, tak kenal permisi. Bumi bergerak, lalu berguncang hebat, Devianti langsung memanggil mertua dan keponakanya di dalam rumah untuk keluar. Suaminya langsung sigap menggendong Zulfin, anaknya.
.
“Saat itu seperti neraka saja, benar-benar menyeramkan kak,” cerita Devianti, saat ditemui tim Dompet Dhuafa, di Pos Pengungsian Lolu, Sigi, Sulawesi tengah.
.
Devianti adalah satu dari sekian ribu pengungsi yang menjadi saksi kejadian memilukan yang terjadi pada 28 September 2018. Dari lima keluarga intinya, semua selamat walau harus terpisah beberapa hari. Namun naas, Devianti tetap harus kehilangan tiga anggota keluarga. Kakak ipar, dan dua keponakaanya sampai hari ini masih belum ditemukan.
.
Rumah Devianti sudah tidak bisa ditemukan. Desa Jona Oge, Kecamatan Biromaru, Kabupaten Sigi, desanya yang dulu, kini juga sudah perpindah tempat. Hanya tertinggal beberapa bekas seng atap rumah, yang menandakan bekas adanya pemukiman.
.
Kebahagiaan terdalam Devianti, ketika mengetahui anaknya, Zulfin, masih dalam kondisi selamat, setelah dirinya terpisah selama satu jam pasca likuifaksi. Sekalipun dalam kondisi yang tidak begitu baik. Zulfin, harus bergelut dengan lumpur bersama sang ayah saat likuifaksi menggulung desanya.
.
“Sekitar satu jam saya terpisah, di atas lumpur itu. Kita diatas seng, suami dan anak terpisah,” terang Devianti.
Hidup tanpa arah, tidur beralaskan bumi beratapkan tanah. Beberapa hari keluarga Devianti bergantung pada doa, dan bantuan dari warga yang mereka lewati. Baru pada hari ketiga mereka bisa menetap di pengungsian, Desa Lolu, Kabupaten Sigi.
.
“Hari pertama hingga ketiga kita beratapkan langit. Kalau panas kita cari pohon yang agak rindang. Kalau malam tidur beratap langit,” tambah Devianti, berkaca-kaca menahan kenangan pahitnya.
.
Tidak hanya sampai disitu, sekitar tiga minggu di pengungsian, Devianti harus mengalami kejadian memilukan lainya. Ketubanya pecah, padahal usia kandungan belum ada tiga bulan, Devianti keguguran.
.
“Jam tiga pagi. Ketuban saya pecah. Saya urus sendiri, kondisi badan sangat lelah. Saya pikir ini, bayi sudah tidak selamat,” cerita Devianti, dengan nada lirih.
.
Tim kesehatan Dompet Dhuafa yang mendapat laporan adanya kasus kegururan di pos pengungsian, langsung bertindak cepat. Devianti langsung dirujuk ke rumah sakit untuk mengetahui kondisi kesehatannya, dan melakukan tindakan medis lebih lanjut. Kondisi kelelahan menjadi faktor utama terjadinya keguguran. Ditambah lagi kondisi pengungsian yang tidak bersahabat dengan ibu hamil, menambah resiko keguguran.
.
“Memang rasa lelah yang luar bisa menjadi faktor utama, kondisi pengungsian juga yang panas saat siang dan dingin ketika malam. Terlebih nutrisi ibu hamil yang tidak terpenuhi di pengungsian,” terang Putri, bidan Dompet Dhuafa yang menangani Devianti.
.
Kini, Devianti bersama suami dan anaknya fokus untuk menjalani hidup di pengungsian. Mereka kini berjuang lagi dari nol untuk bisa membangun kebali kehidupan mereka yang hilang digusur likuifaksi.

Posted in Artikel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

24 views