Kisah Asron, Petani Buah Naga yang Sukses (seri 2)

Palembang-Asron, petani asal Prabumulih ini sengaja didatangkan Dompet Dhuafa Sumatera Selatan ke Desa Macang Sakti, Kecamatan Sanga Desa, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) beberapa waktu lalu, untuk berbagi pengalaman dalam bertanam buah naga.
Asron bisa disebut sebagai petani buah naga yang sukses. Ia kini telah mempunyai 1 hektar tanaman buah naga. Setiap pekannya, Asron selalu panen dan pembeli yang datang untuk membeli hasil panennya. Setiap bulannya, Asron bisa menghasilkan jutaan rupiah dari buah naga, tanpa harus kerja keras mengingat tanaman ini tidak butuh perawatan yang rumit.
Ia setiap akhir pekan hanya pergi ke kebun memetik buah naga. Di pekarangan rumahnya, ia sulap menjadi kebun percontohan buah naga. Di sini, ada setidaknya 40 tiang buah naga, dimana setiap tiang ada 3 batang dan juga setiap pekan ia panen.
Bahkan beberapa kali Mahasiswa dari Universitas Sriwijaya dan ITB melalukan penelitian, untuk mengetahui kenapa buah naga miliknya tumbuh dengan subur. Hal inilah, yang membuat Asron, kemudian dianggap Dompet Dhuafa Sumsel menjadi orang yang paling tepat untuk berbagai ilmu dengan petani Macang Sakti, untuk menjadi petani buah naga yang sukses.
Asron menceritakan, jika ia pertama kali tertarik untuk bertanam buah naga karena saat pergi ke pasar di Prabumulih, melihat buah yang terbilang aneh bentuknya tapi punya nilai jual yang tinggi, Rp20.000-Rp35.000 untuk 1 kg.
Ia pun coba mengali informasi dan mencoba menanam sendiri di pakarangan rumah. Ia pun sempat gagal, karena tidak mengetahui tekhnik yang tepat. Salah satunya, saat proses penanaman. Ketika bibit di tanam justru membusuk.

Tapi ia tidak menyerah, ia kembali mencoba dengan menanam bibit dengan tidak terlalu terlalu dalam di tanah.
“Ternyata bagus, jadi dalam menanam bibit jangan terlalu dalam,” ujarnya.
Tak hanya itu, Asron juga menyampaikan kepada petani Macang Sakti, tekhnik lain untuk membuat buah naga tumbuh subur. Dimulai dari pemilihan lahan.
Buah naga sangat suka dengan tanah yang kering dan berkerikil. Tanaman buah naga sebaiknya tidak terlindung dari sinar matahari.
Sebelum menanam buah naga, ia menganjurkan sebaiknya lebih dulu mempersiapkan tiang buah naga dan bak mobil bekas. Setelah itu, barulah tanah di gali, dan tiang ditancapkan di lobang tersebut dan selanjutnya ditimbun tanah.
Setelah lobang yang ditimbun tanah sudah rata dengan permukaan. Ban mobil tadi di masukkan ke dalam tiang yang sudah tertancap dan diisi tanah. Ban seakan-akan berfungsi seperti pot.
“Tujuannya, supaya kekeringan tanah bisa terjaga dan pupuk nanti bisa terkumpul disana semua. Kalau tanah di dalam ban itu diisi pecahan batu bata lebih bagus,” ungkapnya.
Dalam satu tiang, sebaiknya ditanam 3 batang buah naga. Bibit buah naga juga sebaiknya tidak terlalu dalam, 2-3 cm lebih dari cukup. Dibagian atas tiang dibentuk lingkaran, disini bisa memanfaatkan ban motor atau potongan dari sisi ban mobil.
“Nah, saat buah naga telah sampai pada bagian ban diatas, sebaiknya ‘disunat’ atau di potong. Nanti akan tumbuh cabang-cabang baru, sehingga bisa menghasilkan panen yang lebih banyak,” jelasnya.
Masih kata petani yang juga mempunyai 8 hektar kebun karet ini, buah naga dari proses penanaman biasanya butuh waktu 8 bulan untuk panen pertama. Tapi, itu juga bakal tergantung dengan pemupukan dan perawatan.
“Ada satu virus yang biasanya menyebabkan batangnya membusuk. Nah, pada bagian membusuk itu dibuang dan kemudian diberi odol yang biasa kita gunakan untuk menyikat gigi,” jelasnya.
Tak hanya memberikan ilmu ini secara lisan, Asron bahkan mempraktekannya satu persatu kepada puluhan petani Macang Sakti.
Sekadar mengingatkan, kebun buah naga di Desa Macang Sakti, bagian kecil dari program Local Business Development (LBD) milik ConocoPhillips yang bekerjasama dengan Dompet Dhuafa Sumatera Selatan. Ada tiga desa yang menjadi pelaksanaan program LBD yakni Desa Sukamaju Kecamatan Babat Supat, Desa Macang Sakti Kecamatan Sang Desa, dan Desa Lubuk Bintialo Kecamatang Batang Hari Leko. Di ketiga wilayah ini, pendampingan dilakukan untuk budidaya ikan lele, patin, pertanian sayur-sayuran dan buah-buahan. zal

Posted in Artikel, Kemanusiaan, Pemberdayaan Pertanian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *