Kilas Balik Perjalanan Majalah Insan Mulia

Semua berawal dari semangat untuk menerbitkan media islami. Adalah Adi Aprilliansyah, Chairman Dompet Sosial Insan Mulia yang jauh sebelum berdirinya DSIM mempunyai keinginan kuat untuk bisa menerbitkan media cetak sendiri. Sasarannya adalah menerbitkan media islami dengan content khusus yang berisi tentang edukasi zakat dan filantropi. Ide ini berkutat terus-menerus dalam benak sang Chairman. Baru pada pertengahan 2005, tepatnya di bulan Juni ide besar sang Chairman coba untuk direalisasikan. Maka didirikanlah divisi otonom yang lebih elegan disebut dengan unit usaha Mulia Media Communication (MMC). Di bawah koperasi karyawan DSIM.

Maka ditariklah tenaga-tenaga baru untuk mewujudkan mimpi besar itu. Yang pertama adalah Irwan Syahputra (relawan KKI/Komite Kemanusiaan Indonesia) ditunjuk sebagai Manager MMC. Kemudian Meta Ayuni (Koresponden Ummi wilayah Palembang) sebagai redaktur pelaksana. Lalu Muhammad Harpani, Abdul Latif dan Anton Da Karola (Koran Kampus InFOCUS – UNSRI) duduk dalam dewan redaksi serta Fahriansyah dan Joko Sutrisno di pos Desain Grafis. Serta Awwal Kharisma di bagian IT maintenance. Dengan Adi Apriliansyah sebagai penanggungjawab. Tak lupa pula, menempatkan KH Tol’at Wafa Ahmad Lc, H Toto Haryanto Lc, DR Yuwono Bio Med, Imam Mansyur Lc, dr Legiran, Ir Salihul Fajri dan dr Dian Rennuati dalam jajaran redaktur ahli.

Setelah melalui serangkaian diskusi dan brainstorming, maka terbitlah Koran Jumat (KJ) edisi pertama pada 1 Juli 2005. Berformat tabloid hitam putih dengan tebal delapan halaman dan terbit setiap Jumat. Dengan segera KJ menjadi fenomenal di kalangan aktivis dakwah. Karena ia menjadi semacam penunjuk eksistensi, bahwa dengan modal seadanya mampu lahir media massa dengan sentuhan profesional. Hal ini bisa dilihat dari iklan yang masuk setiap edisinya, cukup untuk menambal kekurangan ongkos produksi. Penyeriusan di lini marketing juga ditandai dengan ditariknya Muhammad Tias di bagian Sirkulasi/Iklan dan Secillia di Corporate Secretary. Roda penerbitan berputar deras dengan semangat tenaga baru.

Setelah berlangsung beberapa edisi. KJ pun bersolek menambah halaman dan lebih berwarna. Ini pun atas saran dari beberapa pembaca yang mengharapkan KJ terbit berwarna dan lebih tebal. Setelah melalui rangkaian pertimbangan baik dari segi isi dan bisnis, akhirnya KJ pun terbit dengan format baru. Edisi 35 (17 – 30 Maret 2006 / Safar 1427 H) KJ terbit dengan cover dan tiga halaman lain yang berwarna. Ukuran tetap dengan format tabloid dan tebalnya menjadi 16 halaman. Demi menjamin keberlangsungan urusan keredaksian, maka pos Pemimpin Redaksi diserahkan kepada Muhammad Harpani. Frekuensi penerbitan diubah menjadi dua kali sebulan setiap jumat. Sebuah loncatan yang luar biasa.

Di tengah perjalanan, dua orang staf KJ mengundurkan diri. Joko Sutrisno (desain grafis) dan Awwal Kharisma (IT Maintenance) mundur per 1 November 2006. Maka tinggallah Fahriansyah yang mengurusi desain grafis. Peraasan sedih dan kehilangan segera menyergap, namun roda telah berputar dan the show must go on. Para awak redaksi pun segera “bergegas” kembali dengan segala tugas penerbitan.

Loncatan kembali dilakukan, saat muncul gagasan untuk mengubah format KJ menjadi majalah. Bukan tanpa alasan dan bukan pula tanpa pengalaman sama sekali. Karena pada sebelumnya, DSIM telah sukses menerbitkan KJ edisi spesial Ramadhan dengan format majalah pada Ramadhan 1426 H/2005 M. Maka penerbitan KJ dibuat vakum dan diganti dengan peluncuran majalah dengan tajuk Insan Mulia. KJ “mengakhiri” tugasnya pada edisi 52/Desember 2006, dengan masa terbit kurang lebih selama 17 bulan. Banyak sudah cerita suka dan sedih yang terjalin. Namun dengan itulah pengalaman awak redaksi tertempa.

Majalah Insan Mulia terbit perdana pada Januari 2007, mengambil momen lima tahun perjalanan DSIM dalam dunia amil dan filantropi. Berformat majalah dengan ukuran A4 dan tebal 28 halaman (plus cover). Sempat terbit sebanyak sembilan edisi, dari Januari hingga November 2007. Sebelum akhirnya di tahun 2008 kembali berubah format. Tahun 2007 adalah tahun kesedihan bagi awak redaksi. Personil satu persatu mundur. Meta Ayuni mengajukan permohonan pengunduran diri pada Mei 2007. Disusul kemudian Abdul Latif, per September 2007 juga resign karena diterima sebagai PNS. Kesedihan pun bertambah saat Fahriansyah (desain grafis) juga mengundurkan diri menjelang THK 1428 H, karena kesibukan kuliah dan keinginan membuka usaha sendiri. Irwan Syahputra yang sebelumnya menjabat manager MMC, juga mengundurkan diri pada November 2007 dengan alasan yang sama. Untuk memulai usaha sendiri di bidang percetakan (Mulia Grafika).

Maka secara resmi, redaksi efektif hanya menyisakan dua orang. Muhammad Harpani dan Anton Da Karola. Sedih, malah boleh dibilang sangat sedih. Apalagi manajemen DSIM tidak memugkinkan untuk merekrut staf baru. Tugas dan tanggungjawab di redaksi tidaklah berkurang. Amanah memang sama jumlahnya. Namun dengan penanggung yang sedikit, tentu beban yang ditanggung akan terasa semakin berat. Apakah kami yang tinggal harus tetap bersedih? Untunglah DSIM tidak berniat untuk menutup apalagi menghentikan penerbitan majalah. Dengan dukungan moril dan materiil personil DSIM secara umum, maka pijakan redaksi coba dikuat-kuatkan. Tahun 2008 pun dilalui dengan sedikit tertatih. Posisi desain grafis diisi oleh Muhammad Zakaria dan untuk membantu pos redaksi direkrut relawan yang siap bekerja paruh waktu, Rakhmat Adinugroho.

Ada kevakuman di bulan Desember dan Januari, memang. Namun, majalah DSIM dengan format baru, akhirnya bisa terbit pada Februari 2008. Mengambil format A5 (setengah dari ukuran majalah sebelumnya) dan tebal 32 halaman (plus kover). Dengan personel yang terbatas, dua bulan kevakuman tersebut diisi dengan persiapan penerbitan majalah serta refreshment layout dan struktur redaksi. Untungnya, keterbatasan yang ada tidak berarti menumpulkan inovasi ide. Maka, pada Mei 2008 DSIM secara resmi menggandeng FLP OI untuk mengisi suplemen Lembar Moeda yang ditujukan untuk pembaca dari kalangan pelajar dan mahasiswa. (KJ-04)

Posted in Artikel and tagged .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *