Hari Guru Nasional: Mari Sejahterakan Sang Guru Ngaji

Pak Dam, Sosok Sang Guru Ngaji

Pak Dam, Sosok Sang Guru Ngaji

Mungkin ketika kita masih kecil, kita pasti masih ingat adanya guru ngaji di dekat rumah atau di masjid yang dengan ikhlasnya mengajari agama kepada kita. Bahkan bagi sebagian anak kecil dibawah 10 tahun, guru ngaji adalah center of influence tempat dimana mereka pertama kalinya mendapatkan pengajaran agama dan contoh langsung pelaksanaan pelajaran agama itu sendiri. Namun nasib guru ngaji kadang tak semulia jasa yang mereka telah berikan kepada seluruh anak di bangsa ini.

Dan kisah ini juga terjadi pada seorang guru ngaji di daerah sekitar Seberang Ulu I, Palembang. Lelaki tua itu bernama, Ahmad Damanhuri. Kesehariannya, Pak Dam (Sapaan Akrabnya) adalah seorang guru ngaji di kampungnya, Jl. Faqih Usman Lr. Sintren, Seberang Ulu I, Palembang. Sudah mulai mengajar ngaji sejak tahun 1975, Kini usianya sudah masuk 68 tahun, ia tua dan renta.

Pukul 3 sore, belasan anak-anak kampung berbondong-bondong berlarian kemasjid untuk solat ashar berjama’ah yang diimami langsung oleh Pak Dam, imam masjid sekaligus guru ngaji mereka. Barulah setelah solat Ashar berjama’ah mereka duduk mengelilingi Pak Dam untuk segera memulai pengajian rutin mereka. Pak Dam adalah salah satu contoh guru luar biasa masa kini, selama ia mengajar ngaji Pak Dam tidak pernah mengharapkan bayaran dari anak-anak yang diajarnya, semua sukarela. Padahal sebenarnya ekonomi Pak Dam sendiri amatlah memprihatinkan dan membutuhkan bantuan.

“Tidak pernah saya, selama 42 tahun mengajar ngaji menentukan tarif. Saya ikhlas, lillahita’ala. Biarlah Allah yang mengatur rezeki saya,” Jelas Pak Dam.

Kini Pak Dam dan keluarga disebuah rumah yang jauh dari kata layak huni, Pak Dam juga kini terlilit hutang 30 juta saat ikhtiar menyobati istrinya yang sakit, yang ternyata Allah punya rencana lain dengan memanggil isterinya terlebih dahulu. Kondisi Pak Dam sungguh menggugah hati nurani.

Pak Dam, seorang guru ngaji tua yang terhimpit hutang dan tinggal di rumah yang jauh dari kata layak huni di usia senjanya. Kisahnya menggugah hati nurani. Pak Dam butuh bantuan kita. Pak Dam, adalah salah satu gambaran nyata betapa belum sejahteranya seorang guru terkhususnya guru ngaji di negeri ini.

Tiap tanggal 25 November negeri ini selalu merayakan Hari Guru Nasional, kemudian diadakanlah upacara sebagai bentuk kepedulian terhadap jasa para pendidik ini. Nama mereka bahkan disandingkan dengan gelar pahlawan, pahlawan tanpa tanda jasa katanya. Tapi bila kita berkaca pada kasus Pak Dam, mungkin bisa dikatakan bahwa pahlawan kita sedang sakit, sakit jiwa dan raganya. Bangsa ini mulai berbenah dan menuntut para pendidik untuk memberikan pendidikan yang baik dan bermutu tinggi kepada anak-anak bangsanya, namun rasanya semua itu sangat tidak sebanding dengan sedikitnya apresiasi yang diberikan kepada mereka.

Selamat Hari Guru Nasional. Kaulah pahlawan yang teramat berjasa, tanpamu apa jadinya kami. (WE)

Mari bersama Dompet Dhuafa (DD) Sumsel membatu meringankan beban Sang guru, dengan melunasi hutang dan merenovasi rumah Pak Dam, agar hidup Pak Dam menjadi lebih baik. Salurkan Donasi anda ke rekening:
Mandiri 113.000.765.3474
Bni syariah
9696.933.56

a.n Yayasan Dompet Dhuafa Republika

#Tambahkan Rp. 26 di setiap donasi, Contoh Rp. 500.026

0811-7811-440 (WA)

Silahkan dibagikan...Share on Google+Share on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someoneShare on LinkedInPrint this page
Posted in Artikel, Dakwah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *