Habejo (46) Ketua kelompok binaan Madrasah Umat DSIM:

Tubuhnya coklat hitam terbakar matahari. Telapak tangannya kasar dan keras. Begitu juga dengan tungkai kakinya tampak begitu padat dan kasar. Dialah Pak Bejo. Ia tinggal di sebuah rumah yang ia sewa seharga 1,5 juta setahun di wilayah Kalidoni, Palembang. Dengan handuk lusuh melingkar di lehernya dan bermodalkan sebuah becak, ia mengayuh dan menyusuri jalan demi jalan memeras keringat membanting tulang guna menanggung biaya hidup lima orang anggota keluarganya.

Namun tidak lupa selaku hamba Allah yang memiliki kewajiban. Ketika adzan berkumandang ia langsung berhenti sejenak menarik becak dan mencari masjid terdekat untuk shalat berjamaah. “Aku sekarang tidak lagi ngoyoh (ngotot, red.) terus sampai malam. Tapi kalau ada hal darurat seperti orang sakit atau melahirkan, ya saya bantu bawa dia,” kata Bapak dari empat orang anak ini.

Ia memiliki anak ketiga dan keempat yang berwajah mirip, yakni Kiki (6,5) dan Alfidah (5). Anak pertamanya, Dewi (21) kuliah di FKIP Unsri Jurusan Matematika dengan beasiswa dari fakultasnya sambil mengajar privat. Sedangkan Bentar (19) anak keduanya, telah lulus SMA, sekarang bekerja di perusahaan furniture kayu. Di tengah himpitan kesulitan hidup yang penuh perjuangan, ia masih bisa membesarkan empat orang anak dan bisa menyekolahkan mereka sampai ke perguruan tinggi.
 
Kerasnya keyakinan dalam setiap ayunan pedal becaknya, ia mendapatkan penghasilan sekitar Rp 40.000 per hari. Sungguh penghasilan yang luar biasa halal dan barokahnya kalau dilihat perbandingannya dengan orang yang bekerja ongkang–ongkang kaki, namun bisa menghasilkan uang banyak dari usaha yang tak jelas.
* * *

Suatu saat ia diuji Allah, ketika pulang ke rumah selepas menarik becak dari jalan, tiba–tiba dadanya terasa sesak dan tubuhnya hampir terhempas ke tanah. Untung, sang istri Maswati segera memegangi tubuhnya yang pingsan. Ketika dipegang, tak teraba lagi denyut nadinya dan kakinya pun dingin. Istrinya terhenyak, tidak ada lagi tanda–tanda kehidupan yang ia dapati dari tubuh sang suami. Sontak tetangga dan kerabat dekat dipanggil ke rumah. Disangkanya, sang suami sudah meninggal dunia. Namun, Allah berkehendak lain. Ternyata Pak Bejo hanya mengalami mati suri. Dalam ’mimpi’nya, ia bersama orangtua perempuannya berjalan bersama sampai di persimpangan jalan, lalu ditinggalkan orang tuanya. Pak Bejo berusaha mengejar namun akhirnya ia kehilangan jejak. Bingung.

Saat itulah ia terbangun. Melihat mata bapaknya membuka dan dadanya mulai turun-naik, salah satu anaknya refleks berteriak keras, “Oi, papa masih hidup!” Betapa kagetnya Pak Bejo melihat ke sekeliling. Para keluarga dan tetangganya telah siap–siap untuk memandikannya. Dan di sudut ruangan, telah terlipat dengan manis kain kafan untuk bajunya. Suasana langsung berubah, pekik hamdallah segera menggema. Disambut haru oleh para pelayat yang hadir dengan terisak. Padahal, menurut istrinya, ”Kurang lebih 10 jam berlalu baru siuman”. Hikmah di balik semua ini bahwa orang yang selalu berbuat kebaikan akan selalu ditolong oleh Allah juga dan akan diberikan keberkahan dalam hidupnya. (Syaiful)

Posted in Artikel and tagged .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *