DD Sumsel Bebaskan Ortu Penderita Hydrocephalus dari ‘Jeratan’ Rentenir

Staf Divisi Program Sosial dan Dakwah Dompet Dhuafa Sumsel Ahabba Tholibin, mengendong Wali Anugrah penderita hydrocephalus.

Prabumulih-Wali Anugrah, balita berusia 2,7 tahun penderita hydrocephalus asal Prabumulih masih terus berjuang untuk sembuh dari penyakitnya.

Kepala Wali, buah hati pasangan dari Riki Rojan dan Emilia warga Jalan Madang Rt 12, Rw 03, nomor 051, Kelurahan Muntang Kapus, Kecamatan Prabumulih Barat, masih belum terlihat normal seperti anak-anak pada umumnya. Dalam tubuhnya masih tertanam selang untuk mengeluarkan cairan di kepalanya.

Wali pun belum bisa duduk seperti balita lainnya karena selang yang ada ditubuhnya. Sang ibu, Emilia bahkan masih terus memompa setidaknya 100 kali untuk terus mengeluarkan cairan di kepalanya.

Tapi, kini kondisi Wali telah jauh lebih baik. Dokter yang merawatnya bahkan menyebut jika kepalanya nyaris normal dan tinggal menunggu waktu saja untuk operasi pencabutan selang.

Tapi masalah lain muncul, karena orangtua Wali terlilit hutang dengan rentenir. Wali yang menjalani 9 kali operasi sejak 2018, membuat orangtuanya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Meski biaya operasi Wali di Rumah Sakit Mohammad Hoesin (RSMH) selama ini ditanggung BPJS, tapi orangtuanya tetap membutuhkan biaya operasional dan biaya untuk membeli obat yang tidak menjadi tanggungan BPJS. Sementara ayahnya, hanya bekerja sebagai buruh harian lepas, dengan pendapatan yang tidak mencukupi.

Dalam kondisi yang sulit ini, orangtua Wali akhirnya memutuskan meminjam uang sebesar Rp4 juta dari rentenir untuk biaya pengobatan anaknya.

Namun, karena pendapatan ayah Wali yang tidak mencukupi, hutang ini akhirnya berlarut-larut dan tak sanggup mereka bayar.

Sang ibu Wali, Emilia yang merasa tidak ada jalan keluar, karena terus ditagih, kemudian menghubungi Dompet Dhuafa Sumsel meminta pertolongan.

Dompet Dhuafa Sumsel sendiri sudah pernah membantu Wali penderita hydrocephalus, membelikan selang yang ditanamkan di kepalanya, pada operasi pertama pada 2018.

“Saya sudah tidak tahu lagi mau minta tolong kemana. Makanya saya hubungi Dompet Dhuafa Sumsel, saya mohon sekali bisa membantu kami,” ucap ibu Wali, Emilia dengan mata berlinang air mata saat dikunjungi dikediamannya, Sabtu (25/1/2020).

Sebelum menghubungi Dompet Dhuafa Sumsel, dia bersama suami sudah membanting tulang untuk dapat melunasi hutangnya itu. Namun, usaha itu belum cukup untuk dapat mengumpulkan uang Rp4 juta.

“Karena tak sanggup bayar, motor suami untuk bekerja pernah mau diambil,” ucap ibu Emilia.

Menanggapi hal itu, Staf Divisi Program Sosial dan Dakwah Dompet Dhuafa Sumsel Ahabba Tholibin, didampingi
Customer service Wulandari Pratiwi dan Perawat Umum Klinik Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC) menyampaikan jika DD Sumsel datang ke kediamannya, memang bermaksud membantu pelunasan hutang orangtua Wali, penderita hydrocephalus.

Ahabba dan kawan-kawan meminta ibu Wali, untuk ikut mendampingi ke kediaman rentenir, tempat mereka berhutang.

“Kami dari Dompet Dhuafa Sumsel, datang dengan maksud membantu orangtua Wali yang menderita hydrocephalus untuk membayar hutang mereka kepada ibu,” katanya.

Setelah melakukan proses pembayaran dengan bukti kwitansi bermaterai, kini hutang orangtua Wali telah lunas.

Usai proses pembayaran, barulah senyum bahagia tampak dari wajah orangtua Wali, penderita hydrocephalus itu. Ia pun kembali mengucapkan terimakasihnya kepada Dompet Dhuafa Sumsel yang telah bersedia membantunya.

“Saya ucapkan terimakasih kepada Dompet Dhuafa Sumsel, hanya Allah SWT yang bisa membalas,” ucapnya. zal

Posted in Artikel, Kemanusiaan, Kesehatan, Pemberdayaan Dhuafa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *