Cerita Pilu Marbot Musholla & Kacamata

Salah satu Penerima manfaat Program Indonesia Melihat

Palembang-Bagi sebagian orang, harga kacamata rabun atau silinder tidaklah mahal. Tak heran, jika terkadang banyak orang yang mengalami gangguan penglihatan, justru punya lebih dari satu kacamata.

Tapi, tidak bagi Firmansyah, siswa kelas X Sekolah Menengah Atas (SMA) Azhariyah, 12 Ulu, Palembang ini. Meski secara fisik, Firmansyah terlihat hidup dalam keluarga yang bergelimang harta. Namun, kenyataannya ia memikul beban hidup yang cukup berat dari anak seusianya. Bahkan untuk  membeli kacamata guna membantu gangguan penglihatannya, terbilang sangat sulit.

Sang ayah, Arifin, sudah lama meninggal dunia. Sementara ibunya tengah sakit stroke. Dalam kesulitan hidup itu, beruntung ia dipertemukan ustadz Nurdin Mansyur.

Ustadz Nurdin, kemudian menjadikannya sebagai anak angkat. Ia tidak sendiri, ada beberapa anak yatim lainnya yang juga menjadi anak angkat dari sang ustadz.

“Semua biaya sekolah saya ini, terutama biaya perbulan, ustadz Nurdin Mansyur yang bayar,” ucap Firmansyah, Rabu (26/2/2020).

Sebagai bentuk terimakasih atas semua kebaikan yang ia terima serta upayanya untuk mandiri, siswa berkulit putih ini menjadi Marbot atau pengurus Musholla An Nur di 13 Ulu, Palembang.

“Ustadz sudah sangat baik dengan saya, jadi saya berusaha untuk tidak merepotkan beliau, jadi pulang sekolah saya jadi Marbot Musholla. Itu juga kenapa saya tidak bilang, kalau mata saya sering sulit melihat,” ucapnya.

Ketika mendengar informasi, di sekolah ada screening mata dan pembuatan kacamata gratis, dia menjadi orang paling bahagia.

Benar adanya, dari hasil screening mata, ia mengalami mata silinder. Itulah yang menyebabkan ia terkadang tak bisa melihat jelas saat pulang sekolah, dimana cuaca sangat terik.

“Saya pulang sekolah bersepeda dan cuaca biasanya sangat panas sekali. Saat itulah mata sering kambuh. Kalau sudah begini, biasanya penglihatan menjadi tidak jelas, benda yang ada di depan kita hanya terlihat separuh saja. Saya malah pernah menabrak mobil karena tidak melihat,” jelasnya.

Setelah kejadian itu, ia sempat terpikirkan untuk memeriksa dan membeli kacamata. Tapi ia tidak mempunyai biaya. Akhirnya, ia pilih menyimpan rapat masalahnya itu, hingga akhirnya ada screening mata dan kacamata gratis yang di gelar Klinik LKC DD Sumsel.

“Saya ucapkan terimakasih sekali, karena saya sangat membutuhkan kacamata ini,” ujarnya.

Sekadar mengingatkan, screening mata dan pemberian kacamata gratis dari Klinik LKC DD Sumsel buat siswa SMA Azharyah, bisa dilakukan berkat kerjasama Dompet Dhuafa Pusat dengan Adira Syariah, Narasi TV, dan Tokopedia.

Firmansyah, hanya satu dari 120 siswa penerima manfaat dari screening mata dilakukan Klinik LKC DD Sumsel bersama Optik Sultan, di Mushollah Abdullah Azhary, 12 Ulu, Palembang, Rabu (27/2/2020).

Dari hasil screening mata, seperti Firman, siswa lain yang mengalami gangguan penglihatan juga diberikan kacamata gratis. Tapi, bagi mereka yang sehat, tidak ada keluhan penglihatan, kacamata tidak dibutuhkan. zal

Posted in Anak Yatim, Kemanusiaan, Kesehatan and tagged .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *