Bojek, Hampir Drop Out dari Kampus Demi Tugas Relawan Kemanusiaan


.
Bencana Tsunami Aceh yang terjadi pada 2004. Kala itu merupakan awal panggilan kemanusiaan bagi Bojek (sapaan akrabnya) untuk terjun langsung ke lokasi bencana sebagai relawan. Tetapi ia hampir kena drop out dari kampus demi tujuan mulia tersebut. Karena pihak kampus melarang mahasiswanya untuk terjun ke lokasi bencana saat itu.
.
Namun dunia kerelawanan seakan sudah melekat dalam diri pria yang memiliki nama lengkap Erwandi Saputra tersebut. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk pindah ke kampus lain dan melancarkan pergerakannya dalam dunia kerelawanan pada bencana Banjir Bandang yang menerjang daerah Batu Sangkar, Padang, Sumatera Barat.
.
“Setelah pindah kampus, ruang gerak dalam kerelawanan kami lebih mendukung. Bahkan tidak jarang kampus dan komunitas memberi fasilitas terkait kebencanaan, salah satunya pelatihan dan seminar. Hingga pada 2010, saya dipertemukan dalam salah satu program pelatihan kebencanaan dari Dompet Dhuafa Singgalang, dan bergabung di dalamnya,” ungkap Bojek.
.
Langkahnya bulat, ia pun secara resmi bergabung dengan Dompet Dhuafa Singgalang melalui rekrutmen relawan sejak 2011. Di 2018, ia resmi sebagai Tim Respon Bencana, relawan Disaster Management Centre (DMC) Dompet Dhuafa, dan hijrah ke Jakarta. Tahap kerelawanannya kembali menuai kisah lain. Bagi Bojek, tugas kemanusiaan menjadi sebuah rasa yang memanggil dari dalam diri untuk mampu membantu walaupun hanya bisa memberi lewat tenaga.
.
Di tepi pantai menjelang malam pergantian tahun, Senin, 31 Desember 2018, Bojek pun mengakui, “Dari beberapa kali terjun bencana, saya paling takjub dengan Gempa, Tsunami, dan Likuifaksi, yang terjadi di Palu, Sulawesi Tengah, pada Oktober 2018 lalu. Banyak hal yang membuat saya menangis dan bahkan masih membekas hingga saat ini”.

Posted in Artikel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

69 views