Beri Sebanyak-banyaknya, jangan sebaliknya

Ditulis Oleh: Anton DC (Staf Media)

Para penggemar novel karya Andrea Hirata penasaran bagaimana Riri Riza menerjemahkan kesan dan imajinasi yang mereka dapat dari buku tersebut ke dalam bahasa visual. Bagi yang belum membaca novel berjudul sama, film ini diharapkan mampu menampilkan spirit novel yang disebut-sebut sangat inspiratif itu.

Film Laskar Pelangi layak dinobatkan sebagai film Indonesia sesungguhnya. Cerita dan pesan yang disampaikan menggambarkan realitas nasional, meski kisahnya diangkat dari cerita lokal di Provinsi Bangka Belitung.

Meski memotret cerita pendidikan yang tertinggal, tetapi pesan yang diangkat di dalam film ini cukup banyak.Ada unsur akulturasi budaya, moral, pendidikan, human interest, ketekunan, keberanian, kesederhanaan serta rasa sosial yang tinggi. Semua pesan ini sangat mengena karena disampaikan secara natural.

Tokoh Lintang mengingatkan saya pada seorang mahasiswa Fakultas Teknik Unsri yang setiap hari menghabiskan waktu bolak-balik Palembang – Indralaya dengan sepeda! Bayangkan, jika saya saja yang ke kantor dengan jarak tempuh sama menggunakan motor kadang merasa pegal dan jenuh (apalagi bersepeda). Beberapa kali sempat saya berpapasan di jalanan yang padat kendaraan dengan anak keturunan Cina ini.

Kita sangat meyakini bahwa bangsa yang besar ini memiliki banyak bibit unggul, tetapi karena kurang pantauan dan perhatian akhirnya mereka yang disebut bibit unggul dari putra bangsa ini semakin termarginalkan.

Berkaca dari Film Laskar Pelangi

Melalui siaran radio, secara tidak sengaja saya menangkap komentar Bambang di Bekasi tentang Laskar Pelangi bahwa ternyata untuk berprestasi tidak mesti di sekolah favorit.

Tetapi yang menjadi pertanyaan,apakah semua jenis pendidikan ini bisa dinikmati oleh seluruh putra bangsa yang sedang membutuhkan pendidikan. Sesungguhnya kita bangga memiliki banyak jenis pendidikan dengan gedung yang mewah.

Apa pun, dalam konteks pendidikan, pemerataan pembangunan gedung sekolah menjadi sangat penting agar disparitas pendidikan itu tidak terlalu lebar.

Namun yang menjadi keprihatinan kita, biaya pendidikannya banyak tidak terjangkau. Akhirnya yang berhasil terserap dalam dunia pendidikan itu hanyalah mereka yang secara ekonomi memiliki kemampuan.

Memang dunia pendidikan kita cenderung ironis, di satu sisi dunia pendidikan sedang dituntut otonom, tetapi di sisi yang lain, kemandirian ini semakin menjauhi dan kurang peduli dengan persoalan ketidakmampuan masyarakat di lapisan bawah dalam menjangkau biaya pendidikan.

Kita harap kehadiran film Laskar Pelangi bisa menjadi inspirasi bagi kalangan pendidikan untuk melakukan revitalisasi dalam membangun dunia pendidikan yang adil dan bermutu. (SINDO, berbagai sumber).

—————————————————————————————
Akulturasi = proses percampuran beberapa budaya dan saling mempengaruhi
Human interest (Inggris) = hal-hal yang berkenaan dengan sifat-sifat baik dan menarik
Disparitas = perbedaan ; jarak
Termarginalkan = terpinggirkan ; terbatasi
Ironis = kejadian atau situasi yang bertentangan dengan yang diharapkan
Revitalisasi = proses, cara, untuk memvitalkan (membuat jadi sangat penting [bagi kehidupan])

Posted in Artikel and tagged .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *