Bahaya TBC Bagi Kesehatan

dr Fadhlia Majidiah, Sp.P (istimewa)

HARI tuberkulosis (TBC) dunia diperingati 24 Maret setiap tahunnya. Meski masih dua bulan lagi, masyarakat kembali diingatkan bahayanya penyakit ini.

Penyakit tuberkulosis (TBC), disebabkan infeksi kuman Mycobacterium tuberculosis, yang bisa menyebabkan seseorang meninggal dunia.

Menurut dr Fadhlia Majidiah, Sp.P, dari RS Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa, TBC merupakan penyakit endemik. Namun sayangnya literasi masyarakat terhadap penyakit tersebut masih kurang.

Hal tersebut ditandai dengan persepsi bahwa TBC hanya menyerang masyarakat golongan bawah. Padahal kenyataannya TBC bisa menyerang siapa saja.

“Semua masyarakat berbagai kalangan bisa kena TBC. Memang ada pandangan dari faktor sosial. Tapi sebenarnya penularan bisa ke siapa saja,” ungkap dokter spesialis paru di RST Dompet Dhuafa.

Menurut Fadhlia, penyakit TBC tak hanya menyerang paru. Tetapi juga dapat menggerogoti organ tubuh lain termasuk tulang. Fadhlia berujar, bagi pasien TBC tak perlu berkecil hati. Karena masih ada kesempatan untuk sembuh total.

“Semua penderita TBC sebenarnya bisa sembuh total. Syaratnya minum obat jangan putus. Lamanya pengobatan bervariasi. Kalau TBC resisten obat bisa 18 sampai 24 bulan,” terangnya.

Menurut data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) di 2019, setiap 30 detik sekali, satu orang tertular Tuberkulosis (TBC) dan rata-rata 13 orang meninggal setiap satu jam. Kasus baru TBC mencapai 842.000 pertahun. Data tersebut diperkirakan baru mencapai 46 persen dari total kasus yang diperkirakan.

Oleh karena itulah, dampak dari penyakit tersebut, perlu dicegah sedini dan sebaik mungkin.

Hal yang perlu diperhatikan, pertama adalah kebersihan lingkungan. Kedua, cukupi asupan dengan makanan bergizi, tidak merokok dan istirahat yang cukup. Berikutnya, perhatikan sirkulasi udara di dalam ruangan. Jangan biarkan ruangan menjadi lembab.

“Kalau ruangan terpapar cahaya matahari itu lebih baik,” ungkap Fadhlia.

Ia menuturkan, usia penderita TBC di Indonesia bervariasi, mulai dari anak-anak sampai lansia. Untuk itu, ia menekankan pentingnya kebersihan lingkungan dan penggunaan masker bagi penderita. Tujuannya agar penyakit yang diidapnya tak menular ke lingkungan sekitar. (adit RST/zal)

Posted in Kesehatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *